LIPI: Cegah aktivitas antropogenik untuk lestarikan perairan darat

LIPI: Cegah aktivitas antropogenik untuk lestarikan perairan darat

Busa mengapung di permukaan air Sungai Cipamokolan yang tercemar limbah di Rancasari, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (19/9/2020). Warga setempat mengeluhkan air Sungai Cipamokolan yang berubah menjadi hitam, berbusa dan menimbulkan bau yang tidak sedap serta berharap agar dinas terkait dapat menanggulangi permasalahan tersebut guna menghindari potensi penyakit yang akan ditimbulkan. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/wsj.

Jakarta (ANTARA) - Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ocky Karna Radjasa mengatakan perlunya pengurangan dan pencegahan aktivitas antropogenik (pencemaran) yang mencemari lingkungan untuk mendorong pelestarian perairan darat.

"Kita sama-sama menyadari bahwa pencemar atau polutan di perairan darat dengan jenis yang semakin beragam dapat menimbulkan risiko bahaya pada organisme perairan seperti gangguan fisiologis bahkan kematian organisme," kata Ocky dalam webinar nasional “Ecological Tools dalam Penilaian Kesehatan Perairan Darat”, Jakarta, Rabu.

Ocky menuturkan perusakan lingkungan perairan yang biasanya berdampak pada kelangsungan hidup organisme di dalamnya.

Meskipun 70 persen wilayah Indonesia merupakan lingkungan perairan laut tetapi sumber daya perairan darat tetap merupakan sumber daya yang penting bagi kehidupan manusia.

Baca juga: Gubes Undip sarankan baku mutu air pertimbangkan pencemaran virus

Baca juga: Syahbandar Ternate waspadai kapal buang limbah ke laut


Peningkatan pertumbuhan penduduk dan percepatan ekonomi mempunyai dampak berupa tekanan terhadap perairan darat, salah satunya adalah memacu pencemaran perairan maupun perubahan habitat yang berdampak merusak ekosistem perairan darat.

Kegiatan antropogenik tersebut bisa berupa pencemaran atau masuknya limbah dari kegiatan industri, pertambangan, dan pertanian.

"Kita sama-sama menyadari bahwa pencemaran di perairan merupakan satu kontribusi dari kegiatan antropogenik di mana banyak sekali masukan limbah padat dan aktivitas baik industri pertanian, perikanan dan pertambangan," ujar Ocky .

Pada Maret 2019, diberitakan sungai di Indonesia yang kondisinya tercemar dan kritis mencapai 82 persen dari 550 sungai yang tersebar di seluruh Indonesia sehingga airnya tidak layak dikonsumsi.

"Dari lebih 550 sungai itu, 52 sungai strategis di Indonesia dalam keadaan tercemar, diantaranya Sungai Ciliwung di DKI Jakarta dan Sungai Citarum di Jawa Barat," kata Direktur Forest and Freshwater dari World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia Irwan Gunawan dalam diskusi "Bersama Menjaga Air Sumber Kehidupan" dalam memperingati Hari Air Sedunia yang jatuh pada 22 Maret.

Sebagian besar sungai-sungai di Indonesia yang penting untuk kegiatan sosial, pertanian, dan industri itu berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan karena tercemar limbah domestik seperti dari rumah tangga dan industri.*

Baca juga: Semua demi udara bersih di Ibu Kota

Baca juga: Kampung Markisa dilengkapi IPAL atasi pencemaran air bersih
Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020