LIPI: Makrozoobentos berpeluang jadi bioindikator kesehatan perairan

LIPI: Makrozoobentos berpeluang jadi bioindikator kesehatan perairan

Dokumentasi - Sekelompok Kupu-kupu hijau berukuran sedang (Catopsilia Pomona) berkumpul di tepian sungai serayu di Desa Wlahar Kulon, Patikraja, Banyumas, Jateng, Minggu (25/10/2015). Kupu-kupu tersebut berkumpul di sepanjang aliran sungai serayu mencari tempat dengan kadar air dan tingkat kelembaban tinggi sehingga bisa menjadi bioindikator lingkungan air. ANTARA FOTO/Idhad Zakaria/nz/aa.

Jakarta (ANTARA) - Peneliti Pusat Penelitian Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jojok Sudarso mengatakan makrozoobentos dapat dikembangkan sebagai bioindikator untuk penilaian kesehatan perairan.

"Di masa mendatang merupakan suatu peluang yang besar untuk mengembangkan biokriteria dari hewan ini guna disesuaikan dengan kondisi ekoregion setempat," kata Jojok dalam seminar virtual nasional "Ecological Tools dalam Penilaian Kesehatan Perairan Darat”, Jakarta, Rabu.

Jojok menuturkan aktivitas antropogenik yang berada di daerah tangkapan air seringkali dilaporkan menimbulkan dampak negatif bagi ekosistem akuatik.

Salah satu biota akuatik yang terdampak oleh aktivitas antropogenik di daerah tangkapan air adalah organisme makrozoobentos. Hewan tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai indikator biologi perairan.

Baca juga: LIPI: Cegah aktivitas antropogenik untuk lestarikan perairan darat

Baca juga: Gubes Undip sarankan baku mutu air pertimbangkan pencemaran virus


Jojok mengatakan dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh hewan tersebut, ternyata hewan itu relatif unggul sebagai alat untuk evaluasi kualitas lingkungan dibandingkan biota akuatik lainnya seperti ikan dan plankton.

Sementara itu, peneliti Pusat Penelitian Limnologi LIPI Gunawan Pratama Yoga mengatakan kajian toksisitas bahan pencemar terhadap biota di perairan darat penting dilakukan.

Kajian toksisitas tersebut dilakukan guna menilai risiko keberadaan bahan pencemar bagi sumber daya hayati perairan darat.

Dia menuturkan melalui kajian toksisitas dapat ditentukan nilai ambang batas suatu bahan pencemar yang dapat ditolerir oleh biota perairan darat.

"Kajian toksisitas terhadap biota-biota endemik di Indonesia penting dilakukan untuk mengetahui tingkat toleransinya dalam menerima beban pencemar yang semakin tinggi di perairan darat Indonesia sehingga dapat dijaga kelestariannya sepanjang masa," tutur Yoga.*

Baca juga: Syahbandar Ternate waspadai kapal buang limbah ke laut

Baca juga: Semua demi udara bersih di Ibu Kota
Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020