IMF prihatin atas kerusuhan sosial pasca-COVID di Amerika Latin

IMF prihatin atas kerusuhan sosial pasca-COVID di Amerika Latin

Seorang wanita mengusap wajahnya di depan Biara Nazarene, saat gereja kembali tutup akibat wabah penyakit virus corona (COVID-19), di Lima, Peru, Rabu (7/10/2020). Tulisan pada papan berbunyi "Jaga jarak sosial 2 meter". REUTERS/Sebastian Castaneda/NZ/djo (REUTERS/STRINGER)

New York (ANTARA) - Dana Moneter Internasional (IMF) khawatir bahwa kerusuhan sosial akan kembali terjadi di "banyak negara" di seluruh Amerika Latin setelah pandemi COVID-19 surut, kata seorang pejabat tinggi IMF, Kamis.

Ekonomi di seluruh Amerika Latin dan Karibia diperkirakan akan berkontraksi sebagai kelompok sebesar 8,1 persen tahun ini, dengan pemantulan 2021 yang tidak merata di hanya 3,6 persen, dan sebagian besar negara tidak terlihat kembali ke tingkat keluaran sebelum COVID hingga 2023, IMF mengatakan sebelumnya pada hari Kamis.

"Beberapa penentu ketidaknyamanan sosial akan memburuk dan itu menimbulkan keprihatinan kami terhadap kawasan itu, bagi banyak negara di kawasan itu," kata Alejandro Werner, direktur IMF untuk Belahan Bumi Barat, dalam sebuah wawancara dengan Reuters.

Baca juga: Jumlah kematian corona di Amerika Latin lampaui 300.000
Baca juga: Amerika Latin catat jumlah kematian akibat COVID-19 tertinggi di dunia


“Keluar dari pandemi, kita akan memiliki tingkat aktivitas ekonomi dan lapangan kerja yang jauh lebih rendah dari sebelumnya, tingkat kemiskinan dan distribusi pendapatan yang lebih buruk,” tambahnya.

Protes yang terkadang berubah menjadi kekerasan mengguncang negara-negara termasuk Chili, Ekuador, dan Kolombia bahkan sebelum pandemi melanda, yang dipicu oleh kemarahan atas ketidaksetaraan, korupsi, dan kebijakan penghematan pemerintah.

Baru minggu ini, pawai untuk menandai peringatan pemberontakan Chili menjadi kekerasan di beberapa bagian Santiago. Chili akan mengadakan referendum pada hari Minggu tentang apakah akan membatalkan konstitusi era kediktatoran, tuntutan utama dari protes 2019.

Werner mengatakan referendum adalah bukti bahwa Chili menyalurkan kepedulian sosial melalui proses kelembagaan.

Dia mengatakan apa yang masih harus dilihat adalah jika pemungutan suara mengarah pada hasil yang akan memungkinkan Chili "untuk terus tumbuh seperti yang telah terjadi dalam tiga dekade terakhir, tetapi juga mencapai lebih banyak inklusi sosial dan mempercepat aspek inklusi sosial."

Sumber: Reuters

Baca juga: WHO: Amerika Latin terlalu dini cabut pembatasan COVID-19
Baca juga: Kasus corona Amerika Latin sentuh 8 juta
Pewarta : Azis Kurmala
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020