NBRI: Tingkatkan edukasi publik permudah penetrasi kendaraan listrik

NBRI: Tingkatkan edukasi publik permudah penetrasi kendaraan listrik

Shell recharge yang ditujukan mendukung program pemerintah menyediakan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) (Foto HO Shell)

Jakarta (ANTARA) - National Battery Research Institute (NBRI) mengemukakan perlunya meningkatkan edukasi publik untuk memudahkan penetrasi kendaraan listrik di tengah masyarakat.

"Karena, jika mereka tidak mengerti tentang apa itu kendaraan listrik dan tidak hanya mengendarai kendaraan listrik, mengapa mereka harus memilih kendaraan listrik. Bagaimana keselamatan kendaraan listrik tersebut, maka mereka tidak mau (memilih kendaraan listrik)," kata Pendiri NBRI, Evvy Kartini dalam "International Conference on Battery for Renewable Energy and Electric Vehicle 2021" (ICB-REV 2021) di Jakarta, Selasa.

Baca juga: NBRI: kejar penguasaan teknologi baterai untuk kendaraan listrik

Baca juga: Menhub: Pemerintah berkomitmen turunkan emisi gas rumah kaca


Pemerintah perlu mendiseminasikan informasi kepada masyarakat tentang pentingnya penggunaan kendaraan listrik, sehingga terbangun kesadaran dan pemahaman untuk memperkuat keinginan menggunakan kendaraan listrik.

Evvy menuturkan berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle), untuk peningkatan efisiensi energi, ketahanan energi, konservasi energi sektor transportasi, dan terwujudnya energi bersih, kualitas udara bersih dan ramah lingkungan, perlu mendorong percepatan program kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (battery electric vehicle) untuk transportasi jalan.

Selain itu, penggunaan kendaraan listrik juga akan mendukung tercapainya komitmen Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dalam upaya mengatasi perubahan iklim. Indonesia berkomitmen dalam Kesepakatan Paris untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebanyak 29 persen pada 2030.

Presiden Perkumpulan Masyarakat Riset Material-Indonesia (President of Materials Research Society-Indonesia) itu menuturkan emisi gas rumah kaca kebanyakan berasal dari industri, transportasi dan penggunaan bahan bakar fosil. Dengan penggunaan kendaraan listrik, akan mencegah pemakaian bahan bakar fosil dan udara akan lebih bersih.

"Mendidik semua (masyarakat) dan memahami ini (penggunaan kendaraan listrik) penting. Mereka harus mempertimbangkan betapa rusaknya lingkungan jika kita selalu menggunakan bahan bakar fosil," tuturnya.

Baca juga: Menhub perkirakan kebutuhan kendaraan listrik pemerintah 132.000 unit

Baca juga: Pabrik baterai sel kendaraan listrik segera dibangun di Bekasi


Senada dengan Evvy, Presiden Perkumpulan Masyarakat Riset Material-Singapura (President of Materials Research Society-Singapore) Tim White mengatakan kampanye dan demonstrasi tentang pentingnya kendaraan listrik dengan skala yang luas dan masif untuk penetrasi kendaraan listrik.

Masyarakat harus benar-benar memahami manfaat yang didapatkan dengan menggunakan kendaraan listrik dibanding kendaraan berbahan bakar fosil seperti memiliki hidup yang lebih sehat dan udara yang semakin bersih, karena berkurangnya polusi udara akibat penggunaan bahan bakar fosil.

Tim mengaku butuh waktu untuk membuat masyarakat membangun kesadaran tentang pentingnya dan manfaat kendaraan listrik sehingga beralih ke kendaraan listrik. Namun, itu harus dibangun mulai dari sekarang agar masyarakat semakin mengerti tentang kendaraan listrik dan manfaatnya untuk kualitas hidup yang lebih baik.
Pewarta : Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021