Banjarmasin (ANTARA News) - Penjarahan yang dilakukan masyarakat membuat sebagian besar anggrek Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan Kalimantan Selatan (Kalsel) kini sulit ditemukan.

Camat Loksado Rubingan di Banjarmasin, Selasa, mengatakan, beberapa anggrek khas pegunungan Meratus seperti Anggrek Tebu maupun Anggrek Hitam kini sulit ditemukan.

Hal tersebut terjadi, kata dia, karena beberapa tahun lalu banyak warga berburu anggrek khas tersebut untuk dijual dengan harga cukup tinggi bahkan mencapai jutaan.

Perburuan secara besar-besaran tersebut, kata dia, membuat beberapa jenis anggrek menjadi hilang sebelum sempat dibudidayakan.

Rubingan mengatakan budidaya anggrek yang dilakukan di pinggiran sungai Loksado menjadi sia-sia karena habis disapu bersih oleh banjir yang melanda daerah wisata tersebut beberapa waktu lalu.

Wali Kepala Adat Loksado, Kapau mengatakan pihaknya kini telah menerapkan denda adat kepada setiap penjarah.

Nilai dendanya, kata dia, beragam disesuaikan dengan harga anggrek yang dijual mulai dari Rp50 ribu hingga jutaan rupiah.

Selain itu, kata dia, berbagai penyuluhan tentang pentingnya menjaga kekayaan alam baik itu anggrek maupun hutan juga terus dilakukan oleh pemerintah kecamatan maupun kabupaten.

"Melalui penyuluhan itu masyarakat kini sadar bahwa kekayaan alam tersebut harus dijaga dengan baik bila tidak ingin beralih tangan ke daerah lain bahkan negara lain," katanya.
(U004/S019/A038)

Pewarta:
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2010