Panel IMF desak bank sentral pantau inflasi, "bertindak dengan tepat"

Panel IMF desak bank sentral pantau inflasi,

Arsip foto - Logo Dana Moneter Internasional terlihat di luar kantor pusatnya selama pertemuan musim semi IMF/Bank Dunia di Washington, AS. ANTARA/REUTERS/Yuri Gripas/pri.

Washington (ANTARA) - Komite pengarah Dana Moneter Internasional (IMF) pada Kamis (14/10/2021) mendesak para pembuat kebijakan global untuk memantau dinamika harga dengan cermat, hanya untuk "memeriksa" tekanan inflasi yang bersifat sementara dan akan memudar ketika ekonomi menjadi normal.

Komite Moneter dan Keuangan Internasional (IMFC), yang terdiri dari 24 menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari negara-negara anggota IMF, mengatakan dalam komunike terakhir di Washington bahwa pemerintah-pemerintah harus "secara hati-hati mengkalibrasi" kebijakan domestik untuk pandemi yang berkembang.

“Kami akan terus memprioritaskan pengeluaran kesehatan dan melindungi yang paling rentan, sambil mengalihkan fokus yang sesuai, dari respons krisis ke peningkatan pertumbuhan dan menjaga kesinambungan fiskal jangka panjang,” kata mereka.

Kekhawatiran inflasi, dipicu oleh permintaan yang terpendam, kemacetan rantai pasokan, harga-harga energi dan komoditas yang lebih tinggi, serta peristiwa cuaca telah menjadi topik perdebatan hangat di pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia minggu ini, dan berkontribusi pada IMF memangkas prospek pertumbuhan globalnya pada Selasa (12/10/2021).

“Bank-bank sentral memantau dinamika harga dengan cermat dan dapat melihat melalui tekanan inflasi yang bersifat sementara. Mereka akan bertindak tepat jika risiko ekspektasi inflasi de-anchoring (guncangan harga jangka pendek dapat mengubah ekspektasi jangka panjang) menjadi konkret,” kata IMFC, merujuk pada bank yang menggunakan alat kebijakan moneter untuk mengendalikan inflasi.

Bahasa itu diperlunak dari rancangan sebelumnya yang menyerukan bank-bank sentral siap mengambil "tindakan tegas untuk menjaga stabilitas harga."

Pembuat kebijakan bergulat dengan pertanyaan inflasi ketika negara-negara kaya bergerak melewati pandemi menuju pemulihan, sementara negara-negara berkembang berjuang dengan varian COVID-19, akses vaksin yang rendah, dan kurangnya sumber daya. Pengetatan kebijakan moneter yang tiba-tiba di Amerika Serikat atau Eropa dapat mendorong arus keluar dana yang menghancurkan dari negara-negara berkembang, IMF telah memperingatkan.

“Pertanyaan kuncinya adalah mengetahui apakah ini inflasi sementara atau bukan. Tidak ada yang memiliki tanggapan atas pertanyaan kunci itu," Menteri Keuangan Prancis Bruno Le Maire mengatakan kepada wartawan pada Kamis (14/10/2021), menambahkan bahwa dia telah mendiskusikannya minggu ini dengan Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell, Menteri Keuangan AS Janet Yellen dan Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde.

Magdalena Andersson, menteri keuangan Swedia yang mengetuai panel IMFC, mengatakan pada konferensi pers bahwa lebih banyak inisiatif diperlukan untuk mengurangi kekurangan barang-barang utama secara global, menambahkan: “Penting bagi kita untuk membuat rantai nilai global bekerja lebih baik daripada saat ini.”

IMFC juga menyerukan komunikasi yang jelas oleh para pembuat kebijakan untuk membatasi dampak negatif lintas negara dan menggunakan alat makroprudensial untuk membatasi kerentanan keuangan.

Pernyataan itu mencatat perbedaan yang tumbuh antara negara-negara kaya dan miskin dalam pemulihan ekonomi dan akses ke vaksin, mencatat bahwa risiko pemulihan cenderung menurun.
 
Pewarta : Apep Suhendar
Editor: Adi Lazuardi
COPYRIGHT © ANTARA 2021