Menag ingatkan masa depan bangsa di tangan para pemuda

Menag ingatkan masa depan bangsa di tangan para pemuda

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas saat membuka Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) 2021 yang diinisiasi Kementerian Agama pada 24-29 Oktober 2021 di Solo, Jawa Tengah. ANTARA/HO-Kemenag.

Jakarta (ANTARA) - Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengingatkan bahwa masa depan bangsa ada di tangan para pemuda yang harua memikul beragam persoalan umat dan bangsa.

"Masa depan bangsa, di tangan pemuda," ujar Menag dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis.

Pernyataan Menag itu disampaikan dalam memperingati 93 tahun peristiwa Sumpah Pemuda. Pada 28 Oktober 1928, para pemuda Indonesia memekikkan sumpah tentang Satu Tumpah Darah, Satu Bangsa, Indonesia. Mereka bersumpah untuk menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Yaqut mengatakan pemuda masa depan harus memiliki pemahaman dan praktik keagamaan yang moderat, tidak ekstrem kanan maupun ekstrem kiri.

Baca juga: Menag anggap AICIS miniatur kajian Islam Indonesia yang moderat

Menurutnya, Kementerian Agama saat ini terus berupaya melakukan penguatan moderasi beragama, salah satunya kepada kalangan pemuda dengan beragam kebijakan yang telah ditetaskan.

Salah satu program dalam penguatan moderasi beragama seperti mencetak duta moderasi beragama baik dari siswa Madrasah Aliyah hingga mahasiswa.

Baca juga: Kemenag harap pemikiran Islam di Indonesia jadi referensi global

"Mereka diberi pemahaman terkait moderasi beragama, sekaligus keterampilan membuat konten publikasi yang moderat," kata Menag.

Menurut dia, buah dari moderasi beragama adalah kerukunan. Kerukunan beragama itu menjadi modal penting dalam membangun bangsa.

"Maju pemuda Indonesia. Di tangan kalian, masa depan Indonesia," kata dia.

Baca juga: Menag minta AICIS hasilkan gagasan untuk pemerintah

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan di era disrupsi seperti sekarang ini adalah momentum bagi pemuda untuk menjadi pemimpin dan memenangkan kompetisi.

"Dalam dunia yang penuh disrupsi waktunya kaum muda menjadi pemimpin untuk memenangkan kompetisi. Pemimpin yang menguasai teknologi bukan dikuasai teknologi," kata Presiden.

Pemuda yang menjadi pemimpin, kata Presiden, harus berani mengambil inisiatif tetapi tetap harus humanis. Pemuda juga harus terus belajar kepada siapa saja, tentang apa saja, dan yang lebih penting menjadi pemimpin yang siap berkontribusi untuk kemajuan Indonesia.

Baca juga: Menag minta santri jangan terjebak pada identitas "sarungan" semata
Pewarta : Asep Firmansyah
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2021