Perlu turunkan tiga persen per tahun untuk capai target stunting

Perlu turunkan tiga persen per tahun untuk capai target stunting

Tangkapan layar Deputi Bidang Pelatihan Penelitian dan Pengembangan BKKBN Muhammad Rizal Martua Damanik dalam webinar Ambassador Talks with Embassy of Mozambique to Indonesia yang diikuti di Jakarta, Kamis (28/10/2021). (ANTARA/Hreeloita Dharma Shanti)

Jakarta (ANTARA) - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengatakan pihaknya perlu menurunkan angka prevalensi stunting (kekerdilan) sebesar tiga persen per tahun untuk dapat mencapai target pemerintah yakni 14 persen pada tahun 2024.

“Untuk mencapai target, Indonesia perlu menurunkan angka stunting sebesar 2,7 hingga 3 persen setiap tahunnya dari 2022 hingga 2024,” kata Deputi Bidang Pelatihan Penelitian dan Pengembangan BKKBN Muhammad Rizal Martua Damanik dalam webinar Ambassador Talks with Embassy of Mozambique to Indonesia yang diikuti di Jakarta, Kamis.

Rizal mengatakan, upaya untuk menurunkan angka prevalensi tiga persen per tahun bukanlah persoalan yang mudah. Hal tersebut disebabkan karena faktor- faktor risiko penyebab stunting masih terus bermunculan, seperti tingginya kasus pada ibu yang menderita anemia.

Baca juga: BKKBN-Kedutaan Besar Mozambik berintegrasi atasi masalah stunting

Berdasarkan data Riskesdas tahun 2018, sebanyak 593 ribu ibu hamil dalam kondisi anemia pada usia 10 hingga 19 tahun. Akibatnya, 192 ribu bayi lahir dengan berat badan rendah dan panjang badan di bawah 48 cm. Menjadikan bayi memiliki risiko 1,74 kali mengalami stunting dibandingkan dengan bayi lahir normal.

Rizal juga menyebutkan, angka stunting semakin tinggi karena dipicu oleh lahirnya bayi dalam keadaan prematur. Contohnya seperti pada data Sensus Penduduk (SP) tahun 2010 yang menunjukkan jumlah bayi yang lahir dalam keadaan prematur ada sebanyak 675 ribu bayi.

“Faktor yang meningkatkan risiko stunting masih tinggi. Seperti bayi lahir prematur dengan 675 ribu kasus dan jarak kelahiran kurang dari empat bulan dengan 663 ribu kasus,” kata Rizal.

Adanya jarak kelahiran kurang dari 24 bulan, akhirnya menyebabkan anak memiliki risiko 1,5 kali lebih besar untuk bayi lahir stunting dan gangguan autisme 1,9 kali lebih besar.

Menurut Rizal, gangguan autisme pada anak akan 2,69 kali lebih besar apabila kehamilan ibu kurang dari 12 bulan.

Lebih lanjut, sebanyak 505 ribu perempuan melakukan pernikahan pada usia yang terlalu dini, yakni pada usia 10 hingga 19 tahun.

Walaupun kondisi stunting di Indonesia cukup memprihatinkan, Rizal optimis bahwa pihaknya dapat menurunkan angka stunting di Indonesia karena mendapatkan dukungan juga bantuan dari berbagai pihak.

Dia berharap angka stunting menjadi 14 persen benar-benar dapat terwujud di tahun 2024.

“Hal ini mungkin tercapai selama semua pihak memiliki komitmen yang tinggi. Koordinasi yang baik, komitmen yang tinggi, organisasi yang baik dan mengambil tindakan nyata dapat mempercepat pengurangan stunting di Indonesia,” tegas dia.

Baca juga: UNICEF pantau penurunan angka kekerdilan di Nagan Raya Aceh
Baca juga: BKKBN: Keluarga berkualitas kunci sukses Indonesia Emas 2045

 
Pewarta : Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021