Aktivis Muslim: Umat beragama dapat mengarusutamakan perubahan iklim

Aktivis Muslim: Umat beragama dapat mengarusutamakan perubahan iklim

Tangkapan layar - Aktivis lingkungan muslim yang juga Ambasador Green Faith Nana Firman dalam webinar, Selasa (30/11/2021). ANTARA/Sanya Dinda.

Jakarta (ANTARA) - Aktivis lingkungan Muslim yang juga Ambasador Green Faith Nana Firman mengatakan umat agama memiliki kekuatan untuk mengarusutamakan isu perubahan iklim di tengah masyarakat.

"Umat beragama itu sangat berpengaruh, cukup powerful, dan punya sudah punya jaringan dan infrastruktur sendiri. Jadi mereka bisa diajak kerjasama mengarusutamakan isu perubahan iklim," kata Nana dalam webinar "Literasi dan Aksi Iklim Generasi Muda Religius Lintas Agama" yang dipantau di Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan melalui generasi muda yang religus, pemerintah dalam hal ini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dapat melibatkan generasi muda di dalam komunitas agama untuk memberikan materi-materi terkait perubahan iklim.

"Kita juga bisa melibatkan pemuka agama untuk memasukkan perubahan iklim ke dalam ceramah mereka atau kutbah mereka. Mungkin tidak masuk menggunakan bahasa ilmiah tapi menggunakan bahasa-bahasa agama," katanya.

Menurut dianya seluruh agama di dunia memiliki pandangan universal untuk melestarikan bumi. Generasi muda dalam kelompok agama pun biasanya lebih bersemangat terlibat aksi perubahan iklim di negaranya sendiri dengan agenda yang dirumuskan secara global, guna menekan arah kebijakan pemerintahan di dunia.

Baca juga: MUI: Pemuka agama perlu dorong masyarakat peduli perubahan iklim

Baca juga: Inggris ajak NU, Muhammadiyah ikut lawan perubahan iklim lewat agama


Pada 17 Oktober dan 18 Oktober 2021 lalu generasi muda lintas agama yang tergabung dalam Green Faith dalam kelompok lain pun mengadakan aksi di dekat rumah ibadah, kantor pemerintah, dan kantor perusahaan untuk menyampaikan tuntutan. Ia menyebut aksi ini merupakan momentum karena dilaksanakan dua minggu sebelum Negosiasi Iklim Internasional COP26 di Glasgow.

Kesepuluh tuntutan tersebut yaitu energi baru dan terbarukan untuk semua, pendanaan yang sejalan dengan nilai-nilai kasih sayang, pekerjaan dan perawatan kesehatan untuk semua orang, hargai hak masyarakat adat, dan sambut migran iklim.

Di samping itu, juga terdapat tuntutan untuk menurunkan emisi karbon hingga nol sampai 2030, akhiri penodaan planet, eliminasi pendanaan tak bermoral, kontribusi adil dari negara kaya, dan kepemimpinan komunitas yang tebal iman.

"Dari 10 tuntutan itu kemudian kita kecilkan, kita berfokus ke energi baru dan terbarukan, transisi dari energi fosil ke EBT, juga penghentian deforestasi karena berkaitan dengan suhu dan iklim bumi," katanya.

Negara-negara maju yang selama ini menyebabkan perubahan iklim juga harus menginvestasikan atau turut mendanai transisi energi di negara-negara berkembang dan miskin. Di tengah COVID-19, menurutnya masyarakat sebetulnya memiliki kesempatan untuk mengubah sistem pemerintahan ataupun bisnis agar lebih berkelanjutan.

Baca juga: Agama dapat dioptimalkan untuk cegah perubahan iklim

Baca juga: Din sampaikan penanggulan kerusakan ekosistem dengan pendekatan agama
Pewarta : Sanya Dinda Susanti
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021