Planetarium Jakarta belum tahu detail revitalisasi TIM

Planetarium Jakarta belum tahu detail revitalisasi TIM

Seorang staf Planetarium Jakarta menjelaskan astronomin kepada sejumlah pengunjung anak-anak di Planetarium Jakarta, Jakarta Pusat, Rabu (3/7/2019). (ANTARA/Arindra Meodia)

Jakarta (ANTARA) - Pihak pengelola Planetarium dan Observatorium Jakarta mengaku belum mengetahui perihal detail rencana revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, yang peresmiannya dilakukan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Rabu (3/7) lalu.

“Sejauh ini kami belum mendapatkan gambaran soal revitalisasi seperti apa yang akan dilakukan. Apakah hanya akan dipoles di bagian luarnya atau secara menyeluruh, kami belum tahu. Mudah-mudahan akan ada anggaran untuk perbaikan dan perawatan alat-alat,” ujar Kepala Satuan Pelaksana Teknik Pertunjukan dan Publikasi Planetarium dan Observatorium Jakarta, Eko Wahyu Wibowo, Jumat.

Baca juga: Warga Jakarta terancam tak lagi bisa belajar benda-benda langit

Eko mengatakan saat ini pihaknya memiliki kendala terkait perangkat simulasi benda-benda langit sejak perusahaan teknologi Carl Zeiss Jerman memutuskan tidak lagi menjual dan melakukan perawatan suku cadang terhadap Planetarium dan Observatorium Jakarta.

“Sejak tahun lalu sudah stop penjualan dan service. Jadi kami berusaha memperbaiki sendiri setiap alat yang rusak. Kalau ada anggaran untuk perangkat-perangkat yang rusak dalam perencanaan revitalisasi mendatang, tentu akan lebih baik,” jelasnya.

Eko berharap rencana revitalisasi TIM akan memperkuat peran Planetarium dan Observatorium Jakarta sebagai sarana pendukung edukasi dan sains bagi masyarakat.

Revitalisasi TIM akan dilakukan dalam dua tahap. Fase pertama adalah pembangunan fasilitas baru seperti Plaza Graha Bhakti Budaya, masjid Amir Hamzah, hotel, pusat kuliner, galeri seni, gedung perpustakaan dan pos pemadam kebakaran. Sedangkan fase kedua mencakup asrama seni budaya, theater arena, dan sejumlah renovasi pada gedung planetarium.
Pewarta : Adnan Nanda
Editor: Yuniardi Ferdinand
COPYRIGHT © ANTARA 2019