Akademisi ingatkan pentingnya mitigasi bencana tsunami

Akademisi ingatkan pentingnya mitigasi bencana tsunami

Ilustrasi - Bahan ajar kesiapsiagaan bencana tsunami diujicobakan dalam kegiatan kegiatan Science, Technology, Engineering and Art (STEMA) di Rumah Komunikasi Kreatif, Bekasi, Jumat (26/7/2019). (ANTARA/Virna P Setyorini)

Purwokerto (ANTARA) - Akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Indra Permanajati mengingatkan pentingnya mitigasi tsunami guna meminimalisasi risiko bencana.

"Kalau dari kajian mitigasi langkah yang paling tepat ketika terjadi gempa besar adalah harus menjauhi pantai dan mencari tempat yang tinggi," katanya di Purwokerto, Senin.

Indra yang merupakan koordinator bidang bencana geologi Pusat Mitigasi Unsoed tersebut, menambahkan masyarakat harus melengkapi telepon selulernya dengan aplikasi-aplikasi kebencanaan dari BMKG sehingga informasi akan diterima secara cepat.

"Kemudian langkah selanjutnya adalah membangun atau mencari tempat untuk berlindung atau titik berkumpul ketika bencana terjadi," katanya.

Indra yang juga dosen mitigasi bencana geologi teknik geologi Unsoed tersebut, menambahkan titik berkumpul masyarakat tersebut harus jelas posisinya dan dibagi berdasarkan jumlah warga.

"Jadi ketika kemungkinan bencana terjadi masyarakat sudah tahu akan berlari ke mana," katanya.

Langkah selanjutnya, tambah dia, membuat jalur-jalur evakuasi warga agar masyarakat yang dievakuasi tidak mengalami kesulitan untuk mencari tempat yang aman.

"Proses evakuasi disarankan untuk semakin jauh dari lokasi pantai atau lebih jauh 3-4 kilometer. Dengan prediksi waktu 25 menit dari gempa bumi untuk terjadinya tsunami cukup untuk menghindari dan menjauhi laut dengan jarak 3-4 kilometer, diutamakan menggunakan kendaraan bermotor," katanya.

Anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia itu, menambahkan pemerintah bisa membangun jalan yang lebar yang arahnya tegak lurus menjauhi pantai dengan jarak 3-4 kilometer atau lebih, untuk jalur evakuasi sehingga akan memudahkan warga menjauhi pantai.

"Saya kira hal ini masih bisa dilakukan. Jadi saran saya pemerintah harus membuat jalan-jalan atau akses yang menjauhi pantai dengan jarak 3-4 kilometer atau lebih menuju tempat yang aman dengan ketinggian yang cukup dan monitoring pantai serta alarm-alarm peringatan dini," katanya.

Baca juga: LIPI siapkan peta rendaman tsunami skala 1:10.000
Baca juga: Lanal Cilacap siap bantu BPBD lakukan mitigasi bencana tsunami
Baca juga: BMKG DIY pastikan sirene tsunami dicek berkala

Pewarta : Wuryanti Puspitasari
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019