Pakar: Peluit bisa jadi alat pemanggil pertolongan saat bencana

Pakar: Peluit bisa jadi alat pemanggil pertolongan saat bencana

ilustrai - peluit. (pixabay.com)

Padang, (ANTARA) - Pakar kebencanaan Universitas Andalas (Unand) Padang Badrul Mustafa mengemukakan peluit dapat menjadi alat pemanggil pertolongan setelah bencana terjadi sehingga layak menjadi salah satu peralatan mitigasi.

"Sebagai pegiat mitigasi bencana saya sering sampaikan dalam sosialisasi masalah kebencanaan tentang pentingnya peluit sebagai salah satu alat yang bisa memberi tahu pihak lain untuk memberikan pertolongan," kata dia di Padang, Minggu.

Menurutnya, ketika seseorang terkurung setelah terjadi bencana, alat ini dapat digunakan untuk memanggil pertolongan karena bunyinya yang keras dan bisa menarik perhatian.

"Peluit cukup efektif dengan tenaga yang kecil saja suaranya bisa nyaring terdengar sampai jauh, kalau kita memanggil memakai suara, lama-lama suara bisa habis," ujarnya.

Ia menyarankan di daerah yang rawan bencana maka warga bisa menyiapkan peluit sebagai salah satu alat yg disiapkan di setiap rumah atau tas siaga bencana.

Ini terinspirasi dari korban selamat dari tenggelamnya kapal Titanic yang dikisahkan korban itu berhasil diselamatkan oleh regu penolong setelah mendengar bunyi peluit, katanya.

Padahal, menurutnya, regu penolong sebelumnya hampir meninggalkan lokasi yang dipenuhi oleh mayat-mayat korban mengapung, namun korban bisa selamat berkat membunyikan peluit.

Sebelumnya korban sudah berteriak memanggil regu penolong, tapi dengan suara yang nyaris hilang karena keletihan dan lapar/haus setelah berjam-jam terapung di laut yang dingin, saat mendengar peluit keberadaannya langsung diketahui, kata dia.

Tak hanya mudah digunakan, peluit juga mudah didapat dan harganya terjangkau mulai dari Rp2.500 untuk jenis plastik hingga Rp5.000 untuk besi.*

Baca juga: Masyarakat Pandeglang diharapkan melek kesiapsiagaan bencana

Baca juga: BNPB: masyarakat sesuaikan diri tinggal di wilayah potensi bencana
Pewarta : Ikhwan Wahyudi
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019