China mulai menarik mundur pasukannya dari perbatasan dengan India, menurut sumber pemerintah India, setelah militer kedua negara pada Juni  bentrok hingga menewaskan 20 tentara India. 

Pada Senin, militer China terlihat membongkar tenda dan bangunan di sebuah situs di Lembah Galwan dekat tempat bentrokan terakhir terjadi, kata sumber-sumber pemerintah India, yang menolak disebutkan namanya karena mereka tidak berwenang berbicara kepada media.

Kendaraan terlihat menyingkir dari daerah itu, serta di Hotsprings dan Gogra, dua zona perbatasan yang diperebutkan.

Penasihat keamanan nasional India, Ajit Doval, dan Wang Yi, salah satu diplomat utama China, "bertukar pandangan secara  jujur dan mendalam" pada Minggu (5/7) mengenai isu perbatasan.

Berdasarkan catatan singkat dari India dan China yang dirilis pada Senin, kedua belah pihak menyatakan telah setuju untuk menarik mundur pasukan secara signifikan.

Catatan dari India juga menyebutkan kedua belah pihak telah sepakat untuk menghormati Garis Kendali Aktual (LAC) yang mencerminkan posisi di sepanjang bagian perbatasan yang diperebutkan. Aspek itu tidak termasuk dalam catatan Beijing terkait pertemuan tersebut.

Menanggapi pertanyaan apakah China telah memindahkan kembali peralatan di Lembah Galwan, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian mengatakan kedua belah pihak "mengambil langkah-langkah efektif untuk memisahkan dan meredakan situasi di perbatasan".

"Kami berharap India akan bertemu China di jalan tengah dan mengambil langkah konkret untuk melaksanakan apa yang disepakati kedua belah pihak, terus berkomunikasi secara erat melalui saluran diplomatik dan militer, serta bekerja sama untuk mendinginkan situasi di perbatasan," kata Zhao dalam konferensi pers, Senin.

Pasukan China dan India bertempur selama berjam-jam di perbatasan Himalaya pada malam 15 Juni, yang mengakibatkan sedikitnya 20 tentara India tewas. China belum mengonfirmasi jumlah korban dari pihak mereka.

Jumlah korban tewas dari pihak India adalah yang tertinggi sepanjang sejarah perselisihan di wilayah perbatasan tersebut dalam lebih dari lima dekade.

Peningkatan konflik itu membuat pejabat militer kedua negara melakukan pembicaraan selama berminggu-minggu untuk membahas cara mengurangi ketegangan.
 

Sumber: Reuters

Pewarta: Yashinta Difa Pramudyani

Editor : Musriadi


COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2020