Ratusan kendaraan dengan lampu rem menyala mengular di ruas jalan nasional Padang-Pekanbaru, menjelang jembatan yang tengah diperbaiki di "kelok pinyaram" Kayu Tanam, Padang Pariaman, Sumatera Barat pada senja gerimis yang gerah di awal April 2021.

Nyala lampu sepanjang lebih dari satu kilometer itu terlihat "nyeni". Siluet merah panjangnya sangat kontras dalam kelam. Dengan pengaturan ISO dan rana yang tepat, siluet itu akan jadi sebuah karya seni yang luar biasa. Instagramable.

Tapi bagi mereka yang duduk di bangku sopir, jejeran kendaraan akibat macet panjang itu adalah siksaan lahir batin. Menyebabkan banyak keluhan. Mulai dari dada panas menahan umpatan, stress meningkat, perut lapar, mual muntah, pinggul keseleo, kaki kram hingga bisa putus cinta karena tidak bisa menepati janji.

AC mobil super dingin yang menyala non stop tidak akan sanggup untuk meredakan banyak keluhan yang bertumpuk-tumpuk itu.

Sudah tiga jam kendaraan-kendaraan itu beringsut-ingsut senti meter demi senti meter namun titik jembatan rusak itu masih jauh di depan. Masih satu kilometer lagi. Artinya masih harus antre paling cepat satu jam lagi. Kalau sial bisa tiga jam. Belum lagi daerah tujuan di Bukittinggi masih 80 kilometer lagi. 

Menginjak tuas rem dan gas ditambah menggantung kopling butuh kesabaran ekstra. Tapi kalau sudah lebih dari tiga jam, kesabaran itu akan tergerus makin tipis. Apalagi kalau ada "bang jago" yang seenaknya memotong jalan. Sudah antre lama-lama, saat mau jalan tiba-tiba dipotong.

Saat macet sudah sampai lima jam, "mood" sudah rusak dengan sempurna. Seakan hari itu sengaja diciptakan untuk sebuah ujian kesabaran. Kalau tujuan awalnya mau berwisata, lupakan saja. Tidak ada keindahan yang bisa dilihat dengan "mood" yang jelek.

Dalam situasi itu, pikiran akan melayang-layang mengharap sebuah keajaiban. Kalau saja, entah bagaimana caranya, bisa lepas dari kemacetan itu, walaupun harus membayar. Ya. Apalah artinya Rp100-200 ribu dibanding kesalnya hati terjebak macet. 

Namanya harapan, sah-sah saja. Namun yang namanya keajaiban itu memang barang ajaib. Hanya bisa diharap, hampir tidak bisa didapat. Maka ratusan kendaraan yang terjebak kemacetan itu, mau tidak mau, harus rela beringsut-ingsut berjam-jam untuk selamat dari horor bernama macet itu.

Beberapa tahun terakhir jalan-jalan di Sumbar memang terasa makin sempit. Lebar jalan tak sanggup menampung jumlah kendaraan. Kecelakaan kecil atau kendaraan rusak di jalan akan memicu macet berkilo-kilometer. Momentum liburan akan memicu kemacetan tidak saja di jalan-jalan utama tetapi merembet hingga ke jalan-jalan alternatif. Puncak kemacaten itu adalah libur lebaran.

Padahal libur lebaran adalah waktu yang hanya datang sekali setahun untuk bersilaturahmi. Perantau pulang membawa keluarga. Menceritakan nostalgia menikmati objek wisata saat beranjak remaja. Mengingat-ingat kenangan lama yang mengukir senyum di sudut bibir.

Kini, bila ingin berwisata pada waktu-waktu "tanggal merah" itu, maka selain kondisi kendaraan harus prima, uang lebih untuk BBM juga harus dipertebal dan yang terpenting harus punya kesabaran yang barlapis-lapis untuk menghadapi macet.

Jika tidak punya kesabaran, lupakan saja wisata saat libur lebaran. Pilih saja liburan virtual.

Salah seorang pelaku usaha pariwisata di Padang, Ian Hanafiah menyebut waktu tempuh dari titik menginap dengan destinasi yang akan dikunjungi adalah salah satu pertimbangan wisatawan untuk berwisata. Tidak ada wisatawan yang mau berlama-lama duduk di atas kendaraan. Bosan. Karena itu kondisi jalan bebas macet, mau tidak mau, menjadi salah satu faktor yang bisa membuat pariwisata berkembang.

Karena itu pula ia meminta pemerintah, sebelum membuat kebijakan pengembangan pariwisata daerah, untuk mau mencoba mengunjungi destinasi dengan menumpangi bus pariwisata tanpa pengawalan petugas keamanan. Memahami realitas sebelum masuk ke tataran teori-teori.

Untuk daerah yang akan menyandarkan pertumbuhan ekonomi pada pariwisata, persoalan kondisi fisik jalan dan kemacetan adalah hal mutlak yang harus di selesaikan. Penyelesaian itu, butuh keajaiban.

Kembangkan jalan tol 

PT Hutama Karya ditugaskan pemerintah untuk membangun "keajaiban" di Sumatera. Melalui Peraturan Presiden No. 100 Tahun 2014 yang kemudian diubah dengan Peraturan Presiden No. 117 Tahun 2015, PT Hutama Karya dipercaya untuk membangun dan mengembangkan Jalan Tol Trans-Sumatera.

Keajaiban itu dirajut dari ujung utara hingga selatan Sumatera. Dari Aceh hingga Lampung yang terdiri dari koridor utama (back bone) sepanjang 2.069 kilometer dan koridor pendukung (sirip) 919 kilometer melalui 24 ruas jalan berbeda dan akan beroperasi penuh pada 2024.

Hingga Maret 2021, dikutip dari laman https://bpjt.pu.go.id, PT Hutama Karya sudah berhasil mengoperasikan 653 kilometer yang terdiri dari sembilan ruas tol.

Sembilan ruas itu masing-masing Bakauheni - Terbanggi Besar (140 km), Terbanggi Besar - Kayu Agung (189 km), Kayu Agung - Palembang - Betung (38 km), Belawan - Medan - Tanjung Morawa (43 km), Medan - Binjai (13 km).

Kemudian Medan - Kualanamu - Tebing Tinggi (62 km), Palembang - Indralaya (22 km), Sigli - Banda Aceh Seksi 4 (14 km), Pekanbaru - Dumai (132 km).

Tol Padang-Pekanbaru yang membentang sepanjang 254 kilometer dari Padang hingga pekanbaru itu adalah sirip tol trans sumatera itu, yang akan menjadi jawaban, solusi kroditnya jalan di Ranah Minang. Jarak Padang-Bukittinggi yang hanya 90 kilometer bisa dilibas dalam satu jam lewat tol. Itu terasa seperti Oasis jika dibandingkan kondisi macet yang bisa membuat perjalanan itu molor menjadi 6-7 jam. Bahkan bisa 12 jam saat macet lebaran!

Itu juga akan menjadi solusi bagi pengembangan pariwisata Sumbar. Mengincar wisatawan regional dari Aceh, Medan, Riau dan Jambi bukan lagi konsep di atas kertas. Tol akan membuat arus wisatawan makin gencar. 

Selain pariwisata, Tol Trans Sumatera akan membuka banyak peluang yang menguntungkan. Semakin banyak membuka lapangan kerja sehingga menyerap banyak tenaga kerja, aktivitas bisnis bisa dilakukan dengan biaya yang bersaing dengan provinsi lain, bersaing dengan negara lain. Tol juga akan memudahkan pemerataan pembangunan, sehingga semakin meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Sumatera.


Terkendala lahan

Di tengah kencangnya laju pembangunan tol Trans Sumatera, secuil persoalan mengemuka di Sumbar. Seksi I tol Padang-Pekanbaru sepanjang 36,6 kilometer dari Padang hingga Sicincin masih terkendala lahan. Hingga awal Maret 2021 baru tujuh kilometer dari 36,6 kilometer itu yang telah berhasil dibebaskan. Dua kilometer lagi sudah mulai dibangun PT Hutama Karya dengan izin pemilik lahan, meski belum dibebaskan.

Manager Pembangunan dan Pelaksanaan PT Hutama Karya seksi I Padang Sicincin, Berlin mengatakan hingga awal Maret 2021 PT Hutama Karya telah menyelesaikan 2,9 kilometer jalan tol Padang-Pekanbaru seksi I dan fokus menyelesaikan 6,1 kilometer lagi hingga Agustus 2021.

Berlin mengatakan pihaknya berharap ruas tol itu bisa selesai dari kilometer 0-6,3 kilometer pada Agustus 2021. Ruas itu berpotongan dengan jalan negara di Nagari Buayan, Lubuk Alung Padang Pariaman sehingga jalan itu bisa dimanfaatkan oleh masyarakat meski belum dibuka secara resmi.

"Jadi dari Padang bisa langsung masuk tol, keluar di Buayan. Tidak perlu memutar ke Lubuk Alung dulu. Hemat waktu, sehingga masyarakat Sumbar bisa merasakan manfaat tol itu," katanya.

"Kerikil-kerikil" itu diharapkan tidak menjadi sandungan untuk sebuah "keajaiban" yang menunggu di masa depan. Keajaiban tol Trans Sumatera.

Pewarta: Miko Elfisha

Editor : Musriadi


COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2021