Nusa Dua, Bali (Antara) - Para menteri APEC sepakat merekomendasikan kegiatan perang melawan korupsi besar-besaran, mengingat tindakan tersebut tidak saja menjadi penghalang yang signifikan bagi kehidupan sosial dan pembangunan ekonomi, tetapi juga menghancurkan kepercayaan publik dan investor.
Demikan salah satu rekomendasi dari enam rekomendasi yang dihasilkan dari pertemuan tingkat menteri APEC (AMM-APEC Miniterial meeting) yang berakhir Sabtu sore di Nusa Dua, Bali.
Manteri Luar Negeri Marty Natalegawa dan Menteri Perdagangan Gita Wiryawan yang menjadi ketua sidang AMM menutup pertemuan AMM dan akan menyerahkan rekomendasi tersebut ke tingkat pemimpin ekonomi Kerja Sama Ekonomi Negara-negara Asia Pasifik (APEC) untuk disahkan.
"Peserta APEC memberikan kontribusi yang penting bagi tercapainya kesepakatan ini. Diharapkan dengan kesepakatan ini bisa mewujudkan stabilitas politik, ekonomi, dan keamanan di kawasan Asia Pasifik, serta meningkatkan konektivitas di antara peserta APEC," kata Marty dalam jumpa pers.
Rekomendasi tentang pemberantasan korupsi tertuang dalam Annex D yaitu "Enhancing APEC Network in Combating Corruption and Ensuring Transperancy" (Meningkatkan Jaringan Kerja Sama APEC dalam Memerangi Korupsi dan Memastikan Tranparansi).
Menteri APEC menyadari bahwa Korupsi menghambat dan merusak persaingan pasar, menciptakan ekonomi biaya tinggi, dan merusak jasa pelayanan public.
Pada APEC 2004 di Santiago, Chili, para pemimpin APEC sudah mengakui ancaman bahaya korupsi bagi pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Pasifik. Bahkan di APEC 2012 di Rusia, para pemimpin ekonomi mendukung Deklarasi Vladivistok yang memperbarui kembali komitmen melawan korupsi.
Lebih jauh, APEC menyetujui pembentukkan APEC Network of Anti-Corruption and Law Enforcement Authorities (ACT-Net), yaitu jejaring kerja sama yang melibatkan aparat penegak hukum, lembaga anti korupsi, dan lembaga-lembaga lainnya terkait penegakkan hukum, dengan tujuan memperkecil ruang gerak bagi koruptor di Asia Pasifik.
Adapun bentuk kerja sama lewat ACT Net antara lain memfasilitasi pelatihan penyelidikan khusus, berbagi pengalaman, melakukan tukar menukar informasi pemberantasan korupsi serta membangun forum diskusi bilateral maupun multilateral di antara anggota APEC.
COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2013
Demikan salah satu rekomendasi dari enam rekomendasi yang dihasilkan dari pertemuan tingkat menteri APEC (AMM-APEC Miniterial meeting) yang berakhir Sabtu sore di Nusa Dua, Bali.
Manteri Luar Negeri Marty Natalegawa dan Menteri Perdagangan Gita Wiryawan yang menjadi ketua sidang AMM menutup pertemuan AMM dan akan menyerahkan rekomendasi tersebut ke tingkat pemimpin ekonomi Kerja Sama Ekonomi Negara-negara Asia Pasifik (APEC) untuk disahkan.
"Peserta APEC memberikan kontribusi yang penting bagi tercapainya kesepakatan ini. Diharapkan dengan kesepakatan ini bisa mewujudkan stabilitas politik, ekonomi, dan keamanan di kawasan Asia Pasifik, serta meningkatkan konektivitas di antara peserta APEC," kata Marty dalam jumpa pers.
Rekomendasi tentang pemberantasan korupsi tertuang dalam Annex D yaitu "Enhancing APEC Network in Combating Corruption and Ensuring Transperancy" (Meningkatkan Jaringan Kerja Sama APEC dalam Memerangi Korupsi dan Memastikan Tranparansi).
Menteri APEC menyadari bahwa Korupsi menghambat dan merusak persaingan pasar, menciptakan ekonomi biaya tinggi, dan merusak jasa pelayanan public.
Pada APEC 2004 di Santiago, Chili, para pemimpin APEC sudah mengakui ancaman bahaya korupsi bagi pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Pasifik. Bahkan di APEC 2012 di Rusia, para pemimpin ekonomi mendukung Deklarasi Vladivistok yang memperbarui kembali komitmen melawan korupsi.
Lebih jauh, APEC menyetujui pembentukkan APEC Network of Anti-Corruption and Law Enforcement Authorities (ACT-Net), yaitu jejaring kerja sama yang melibatkan aparat penegak hukum, lembaga anti korupsi, dan lembaga-lembaga lainnya terkait penegakkan hukum, dengan tujuan memperkecil ruang gerak bagi koruptor di Asia Pasifik.
Adapun bentuk kerja sama lewat ACT Net antara lain memfasilitasi pelatihan penyelidikan khusus, berbagi pengalaman, melakukan tukar menukar informasi pemberantasan korupsi serta membangun forum diskusi bilateral maupun multilateral di antara anggota APEC.
Editor : Musriadi
COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2013