Denpasar, (Antara) - Pengamat politik dari Universitas Udayana (Unud) Denpasar Idin Fasisaka MA berpendapat bahwa kampanye calon presiden di televisi tidak secara otomatis menaikkan elektabilitas. "Itu hanya dapat mendongkrak popularitas saja, tapi belum tentu sampai pada tingkat kalkulasi elektabilitas oleh publik kepada calon tertentu," katanya di Denpasar, Minggu. Ia tidak memungkiri televisi sebagai media yang sangat populer di mata masyarakat Indonesia sehingga calon presiden masih saja memanfaatkannya sebagai media untuk berkampanye. "Kampanye tersebut masih sebatas pada pengenalan calon dan penyampaian visi dan misinya," ujar peraih gelar master di Political Science University of Delhi, India, itu. Idin juga memandang bahwa dengan adanya beberapa calon presiden sebagai pemilik modal di stasiun televisi swasta nasional menjadikan lebih mudah berkampanye. "Namun bagi calon yang tidak memiliki modal di televisi, bisa saja memanfaatkannya, asalkan punya dana cukup untuk kampanye di televisi," ujarnya. Oleh sebab itu, dia yakin banyak calon presiden yang memanfaatkan televisi sebagai ajang kampanye menjelang Pemilu 2014. "Namun yang penting, jangan sampai kampaye di televisi hanya dimonopoli oleh beberapa calon saja," ujarnya. Idin juga mengingatkan para calon presiden untuk mencermati sasaran kampanye karena penonton televisi memiliki latar belakang beragam.***1***

Pewarta: Oleh I Made Surya

Editor : Triono Subagyo


COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2013