Pada pekan kedua Juli 2023, dua kepala daerah di Jawa Timur memosting di instagramnya masing-masing, tentang persoalan sampah.

Sampah menjadi sorotan keduanya karena daerahnya memang merupakan jujugan para wisatawan. Satu di Kota Batu, satu lagi di Kabupaten Trenggalek.

Penjabat (Pj) Wali Kota Batu Aries Agung Paewai menyoroti kurangnya kesadaran membuang sampah di tempat yang telah disediakan, pun demikian Mochamad Nur Arifin sang Bupati Trenggalek, yang mendapat laporan menumpuk dan berserakannya limbah durian.

Aries Agung Paewai, bahkan lebih memberikan perhatian khusus kepada para padagang, khususnya di kawasan Alun-Alun Kota Batu, yang dinilainya kurang fokus terhadap kebersihan sekitar lapak-lapak.

Baca juga: Melindungi macan tutul dari ancaman kepunahan di Meru Betiri

Pria yang juga Kepala Dinas Pendidikan Jatim itu kerap menemukan sampah sisa dan tempat makanan, bahkan puntung rokok dibuang begitu saja. Padahal, tempat sampah sudah disediakan di sejumlah titik.

Para petugas kebersihan dan dinas lingkungan hidup tak kenal lelah berkali-kali menyapu, membersihkan, dan memasukkan sampah ke tempatnya.

Kondisi hampir serupa terjadi di Trenggalek, tepatnya di Pantai Cengkrong. Dalam postingan Mas Ipin, sapaan akrab bupati, terlihat petugas membersihkan sampah-sampah plastik dan kulit-kulit durian, lalu memasukkannya ke kendaraan roda tiga bak terbuka.

Mas Aries dan Mas Ipin hanya dua dari puluhan kepala daerah yang bukan tidak mungkin memiliki masalah sama di wilayahnya, yaitu sampah.

Terlebih tak hanya masa akhir pekan, tapi juga masa liburan sekolah, sehingga berseiring dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan.

Ribuan orang setiap harinya datang, berkunjung dan menikmati objek wisata di hampir semua daerah di Jawa Timur. Di sana juga ratusan pedagang yang menjual aneka jajanan, makanan dan minuman.

Maka diperlukan berbagai terobosan dan program yang membuat persoalan sampah terkurangi. Tapi itu tidak cukup. Tanpa adanya kesadaran dari pengunjung, pedagang dan warga setempat, kasus sampah tak akan terhenti.

Salah satu terobosan yang dilakukan pemerintah di Kota Batu adalah pengerahan petugas kebersihan pada tengah malam hingga dini hari. Di atas jam 12 malam hingga sebelum shubuh, para petugas bergerak dan membersihkan jalanan serta titik-titik lokasi berserakannya bungkus-bungkus sisa orang makan.

Baca juga: Kuliner khas Solo menuju gastronomi bintang lima

Dari Batu dan Trenggalek kita beralih ke Surabaya. Kota metropolitan yang tingkat aktivitas dan keseharian masyarakatnya sangat tinggi, tak hanya di hari libur, di hari kerja pun, sampah-sampah, jika tak ditangani dengan baik akan membuat "Kota Pahlawan" itu tidak sehat.

Catatan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya, volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo mencapai 1.600 ton per hari. Dominasi sampahnya jenis organik, yaitu sekitar 60 persen, sisanya 40 persen adalah sampah anorganik.

Ditotal, volume sampah pada tahun 2023 mengalami kenaikan ketimbang di tahun 2022 yang sebesar 1.590 ton.

Kenaikan itu dikarenakan laju perekonomian masyarakat yang saat ini sudah cenderung normal setelah melandainya pandemi COVID-19 sehingga mobilisasi warga ke Kota Surabaya kembali meningkat.

Faktor peningkatan sampah lainnya adalah karena Surabaya sebagai Ibu Kota Jawa Timur dan basis perekonomian di wilayah timur Indonesia, sehingga menghadirkan banyak lapangan pekerjaan yang mampu menarik minat masyarakat dari sejumlah daerah.

Setelah diterbitkannya Peraturan Wali Kota Nomor 16 Tahun 2022 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik di Kota Surabaya pada tanggal 9 Maret 2022, khusus sampah plastik mengalami penurunan antara 1,5 sampai 2 ton per hari.

DLH juga mencatat tumpukan sampah harian di Surabaya berada di angka 2.000 kilogram yang dihitung dengan melihat pada angka penduduk di wilayah setempat.


Untuk mengatasinya, baru-baru ini Wali Kota Eri Cahyadi menyiapkan skema khusus. Pemerintah Kota Surabaya membentuk skema menghubungkan antara "bank sampah" tingkat kelurahan hingga kota, sebagai upaya memaksimalkan potensi nilai ekonomi dari sampah nonorganik.

Lahannya, di tingkat kota, di kantor dinas lingkungan hidup (DLH). Sampah yang didapatkan dari bank sampah tingkat kelurahan akan dibeli oleh "bank sampah induk". Jadi, ada sirkulasi ekonomi karena sampah menghasilkan ekonomi yang besar.

Gambaran awal operasionalnya, "bank sampah induk" akan membeli sampah yang terkumpul dari fasilitas di tingkat kelurahan, seperti botol, gelas, kantong plastik, dan bungkus produk kemasan sasetan. Sampah-sampah yang sudah terkumpul kemudian dicatat.
 
Arsip - Penjabat (Pj) Wali Kota Batu Aries Agung Paewai (kiri) pada saat berdialog dengan salah satu warga, di Kota Batu, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. ANTARA/HO-Prokopim Setda Kota Batu


Sementara itu, di Kabupaten Sidoarjo kini sudah ada "Kampung Edukasi Sampah", tepatnya di RT 23, RW 07 Kelurahan Sekardangan, Kecamatan Sidoarjo.

Inisiatornya adalah Edi Priyanto, pegiat lingkungan, yang kesehariannya adalah salah seorang pejabat di salah satu BUMN besar di Indonesia.

Diawali sekitar tahun 2017, ia pertama mengajak generasi muda setempat agar sampah yang diambil dari kampung tersebut bisa ditekan atau mendekati nol. Ajakan tidak sekadar mengajak, namun juga dilakukannya dengan menyiapkan rumah daur ulang yang digunakan sebagai ruang kreativitas dan keterampilan pembuatan kerajinan dari barang bekas dan daur ulang.

Disiapkannya juga rumah kompos untuk menempatkan hasil kompos, baik kompos padat organik hasil pengolahan pada komposter tong takakura dan aerob, serta kompos cair organik yang berasal dari pengolahan sampah basah juga disajikan produk-produk minuman herbal hasil olahan tanaman obat keluarga.

Baca juga: WALHI ingatkan daur ulang saja tak cukup atasi masalah sampah plastik

Di Kota Kediri, Ketua Dewan Penasihat Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota Kediri Ferry Silviana Abu Bakar mengajak seluruh anggotanya menjadi motor penggerak sekaligus ikut mengampanyekan untuk mengurangi produksi sampah.

Suaminya, yang juga Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar, sudah menegaskan komitmen pemkot mengurangi sampah. Di "Kota Tahu" itu, sampah yang masuk di TPA setiap harinya sebanyak 140 ton.

Wali kota yang akrab disapa Mas Abu itu membuat surat untuk pusat-pusat perbelanjaan agar tidak menggunakan tas plastik.

Tapi, semua itu akan menjadi percuma jika langkah dari para pemangku kepentingan untuk memerangi sampah tidak diikuti kepatuhan serta kesadaran kita.

Pemerintah tidak boleh kalah. Imbauan, larangan, aturan, dan hukuman yang sudah diberlakukan harus dijalankan, kalau perlu lebih tegas sanksinya. Jangan menyerah dengan keadaan yang setiap harinya terulang. Sampah lagi, sampah lagi.

Apalagi, dalam Agama Islam disebutkan dan dikenal dengan "maqolah" atau ungkapan bijak "Annadhofatu minal iman", yang artinya kebersihan itu sebagian dari iman.

Masyarakat, termasuk kita, juga harus selalu ingat dan jangan lelah untuk menyadarinya. Mari dukung daerah kita menjadi bersih, dan dimulai dari hal sepele, yaitu membuang sampah pada tempatnya.

Pemerintah, dari semua tingkatan, tidak pernah lelah berupaya dan memberikan contoh agar wilayahnya bersih. Saatnya masyarakat ikut ambil bagian dan ikut bergerak.
 

Pewarta: Fiqih Arfani

Editor : Musriadi


COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2023