Jakarta (Antara) - Seseorang yang sedang mengalami depresi hanya perlu bercerita mengungkapkan yang dirasakannya dan didengarkan dengan baik oleh orang-orang terdekatnya, kata dokter spesialis kesehatan jiwa Diah Setia Utami.

"Seringkali mereka tahu ada yang terjadi dalam dirinya, namun seringkali merasa takut salah menyatakan perasaan. Terkadang mereka sudah bicara tapi tidak didengarkan, malah dinasehati, atau disalahkan. Itu justru memperparah keadaan," kata Diah di Jakarta, Kamis.

Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) dr Diah Setia Utami SpKJ menjelaskan bahwa masyarakat bisa membantu orang-orang yang mengalami depresi dengan mendengarkan mereka berbicara, dan membuka wawasan mereka bahwa di sekitar mereka ada harapan dan banyak orang yang ingin membantu mereka. 

Diah menekankan agar seseorang harus benar-benar menjadi pendengar bagi orang yang depresi dengan memberikan perhatian lebih ketika orang tersebut sedang bercerita.

Psikolog dari Himpunan Psikolog Indonesia (Himpsi) Pelita Sinaga menekankan pentingnya kehadiran seorang pendengar bagi orang yang mengalami depresi.

"Terkadang orang depresi sudah bicara, tapi tidak didengarkan. Mereka butuh perhatian yang lebih," kata Pelita.

Dia menjelaskan agar seorang pendengar benar-benar fokus mendengarkan dengan memberikan dukungan seperti gestur anggukan kepala, atau bahkan sentuhan secara fisik.

Diah juga menambahkan seringkali stigma terhadap orang depresi dikaitkan dengan orang yang tidak dekat dekat dengan Tuhan, kurang iman, tidak sabar terhadap cobaan Tuhan, diguna-guna atau didekati makhluk halus.

Padahal keadaan depresi pada seseorang adalah suatu penyakit yang bisa dialami oleh siapa saja pada usia berapa saja.

Diah mengatakan keadaan depresi bisa terjadi pada tiap tahapan dalam hidup. Yang paling umum terjadi ialah depresi setelah melahirkan dan depresi pada usia senja. ***4***

Pewarta:

Editor : Musriadi


COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2017