Kasus dugaan perundungan yang berujung pada kekerasan fisik terhadap seorang pelajar SMK di Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu. Menjadi perhatian publik setelah kronologi kejadian diunggah oleh akun Instagram @tiaraaautamii. 

Peristiwa yang disebut terjadi pada November 2025 itu hingga kini dikabarkan masih dalam proses penanganan.

Dalam unggahannya, akun tersebut menjelaskan kejadian bermula pada pertengahan November 2025 saat ponsel korban dipinjam oleh teman sekelasnya untuk berbagi hotspot. Tanpa sepengetahuan korban, ponsel itu diduga digunakan untuk mengirim pesan berisi kata-kata kasar kepada pelaku.

Pihak keluarga menegaskan korban memiliki riwayat disleksia yang membuatnya kesulitan membaca dan menulis, sehingga dinilai kecil kemungkinan korban mengirim pesan tersebut secara sengaja. 

Sepulang sekolah di hari yang sama, pelaku disebut mendatangi korban dalam keadaan marah. Korban telah menjelaskan dirinya tidak mengetahui pesan tersebut dan menyampaikan permintaan maaf.

Baca juga: Anak influencer diduga jadi korban pelecehan seksual di SMPN Jaktim
Baca juga: Setiap guru harus mampu jadi konselor cegah perundungan

Beberapa hari kemudian, tepatnya pada pertengahan November 2025 saat jam pelajaran olahraga, diduga terjadi kekerasan fisik di dalam kelas. 

Korban yang sedang duduk disebut tiba-tiba diserang dari arah belakang dan menerima tendangan serta pukulan berulang. Kejadian itu sempat direkam oleh siswa lain dan videonya beredar di media sosial.


Melalui unggahannya, pemilik akun @tiaraaautamii menuliskan,

"Ini kemarin kejadiannya ya. Dan sampe sekarang pelaku masih bersekolah dengan tenang haha hihi, dan adek aku? Tidak berani sekolah di sana lagi dan merasa tidak nyaman dan akhirnya adek aku pindah sekolah, dan sampai sekarang masih menjalani terapi di psikolog," tulisnya dalam unggahan Jumat (6/2/2025).

Ia juga mengungkapkan bahwa korban hingga kini masih menjalani terapi psikologis. Kasus tersebut telah dilaporkan secara resmi ke pihak sekolah dan kepolisian setempat dengan menyertakan rekaman video serta keterangan saksi. 

Namun hingga Februari 2026, keluarga menyebut belum ada perkembangan berarti dalam proses penanganan perkara. Dalam unggahan yang sama, akun itu menyoroti sulitnya menghubungi pihak penyidik.

Akun tersebut juga menuliskan harapannya agar kasus ini mendapat perhatian publik. “Aku tidak mau sebenernya post ini. Tapi kayaknya kalau tidak viral tidak diusut," katanya.

Baca juga: Disdik Pekanbaru telusuri dugaan murid SDN 108 meninggal akibat perundungan
Baca juga: Maraknya perundungan siswa, Presiden Prabowo: Itu harus kita atasi

Unggahan itu disertai tagar seruan menghentikan perundungan dan mendorong keadilan bagi korban.

Akibat peristiwa tersebut, korban dilaporkan mengalami trauma psikologis yang cukup berat dan masih menjalani pendampingan intensif dari psikolog profesional. 

Pelaku bullying pernah jadi korban? (2)

 

Pewarta: Vonza Nabilla Suryawan

Editor : Anom Prihantoro


COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2026