Guru Besar Bidang Ilmu Teknologi Rekayasa Konstruksi Bangunan Gedung Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) Prof Yuskar Lase mengubah cara Indonesia untuk menghadapi gempa.

“Gempa bumi adalah keniscayaan yang tidak dapat dihindari, tetapi dampaknya terhadap bangunan buatan manusia adalah pilihan,” tegas Prof Yuskar Lase dalam keterangannya di kampus UI Depok, Jumat.

Yuskar menegaskan perlunya perubahan paradigma dari pendekatan fixed base menuju sliding base. Menurutnya, sistem ini bukan sekadar inovasi teknis, melainkan bentuk rekonsiliasi antara rekayasa modern dan dinamika alam. “Alih-alih melawan gempa, kita harus belajar berinteraksi dengannya. Sliding base adalah cara pandang baru yang membuat bangunan tidak hanya bertahan, tetapi beradaptasi, bahkan menari bersama gempa,” kata peneliti kelahiran Landatar, tahun 1961 tersebut.

Penelitian Yuskar berangkat dari latar belakang bahwa Indonesia sebagai negara di jalur cincin api (Ring of Fire) menghadapi risiko kegempaan mematikan yang berulang, mulai dari Sumatera (1833), Aceh (2004) hingga Cianjur (2022).

Bangunan non-engineered, bertingkat rendah dan menengah-bawah terbukti paling rentan. Ironisnya, filosofi konstruksi bangunan Nusantara saat ini masih didominasi pendekatan fixed base, dengan struktur bangunan dirancang untuk menahan dan melawan energi gempa.

Penerapan pendekatan ini pada bangunan nonengineered, bertingkat rendah, dan menengah-bawah, terbukti secara empiris dan teoritis paling rentan menghadapi daya rusak gempa bumi.

Yuskar menekankan bahwa solusi inklusif diperlukan agar konstruksi Nusantara mampu menghadapi ancaman ini dengan resiliensi adaptabilitas. Ia menyoroti bahwa dampak gempa bukan hanya soal magnitudo, melainkan juga pilihan desain dan perencanaan.

“Paradoks pembangunan kita adalah membangun hutan beton di atas patahan aktif. Itulah sebabnya kita harus berani mengubah paradigma konstruksi,” tambahnya.

Yuskar mengangkat rumah adat asal tanah kelahirannya, Pulau Nias, yakni Omo Hada, sebagai referensi penting. Omo Hada menggunakan sistem struktur fleksibel dengan tumpuan batu, sambungan semi-rigid, dan bresing (bracing) diagonal, yang memungkinkan disipasi energi gempa melalui gesekan dan deformasi terkendali.

Ketahanan Omo Hada lintas generasi membuktikan bahwa prinsip adaptasi telah lama menjadi bagian dari DNA masyarakat Nusantara.

Kajian pasca-gempa Nias 2005 mencatat bahwa rumah Omo Hada hanya bergeser ±10 cm tanpa kerusakan berarti, meski diguncang gempa dengan skala magnitudo momen (Mw) sebesar 8,6.

Fakta ini menunjukkan bahwa resiliensi bukanlah barang impor dari barat, melainkan warisan lokal yang terus relevan hingga kini.Teknologi modern seperti Double Concave Friction Pendulum (DCFP) menjadi elaborasi dari prinsip Omo Hada.


Sistem ini memungkinkan bangunan bergerak relatif terhadap tanah, mereduksi respons struktur, sekaligus memiliki kemampuan self-centering.

Penelitian Yuskar pada bangunan data center menunjukkan efektivitas sistem ini dalam mengendalikan tingkat kerusakan struktur serta peralatan data center yang memiliki nilai ekonomi yang sangat signifikan, bahkan melebihi nilai ekonomi struktur gedungnya.

Dengan transformasi paradigma dari fixed base ke sliding base, konstruksi bangunan Nusantara dapat lebih adaptif, efisien, dan inklusif.

Pewarta: Feru Lantara

Editor : Musriadi


COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2026