(Antaranews Bengkulu) - Aroma karbon monoksida dari pembakaran batubata di tungku perapian menyeruak ke udara. Di dalam bilik itulah, sepuluh ribu balok tanah liat dikeringkan dengan sistem pemanggangan tradisional.

"Ini (batu bata) akan dibakar selama tiga hari tiga malam," kata Sinai belum lama ini. Perempuan yang telah menghabiskan separuh usianya sebagai pembuat bata di Desa Pagar Dewa, Kecamatan Pasar Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu.

Dalam sekali pembakaran, wanita berusia 46 tahun ini membutuhkan kayu bakar sebanyak satu mobil pick-up atau sekitar dua kubik yang dibelinya seharga Rp500 ribu.

Gelondongan kayu bakar dari pohon karet yang dia beli beberapa waktu lalu, masih tersisa di depan rumah produksi. Menantunya bertugas membelah tumpukan kayu bakar, sementara anak perempuannya menjaga api tetap menyala sempurna. Keluarga Sinai turun temurun merupakan pembuat batubata.

"Butuh kesabaran tinggi untuk membuat bata, tapi harganya tidak sebanding dengan jerih payah yang kami keluarkan," tutur Sinai.

Untuk membuat 10.000 batubata, dia harus merogoh ongkos produksi hingga Rp1,2 juta. Uang itu dipakai untuk membeli bahan baku berupa kayu bakar, tanah dan pasir. Sementara harga jual hanya Rp350 per buah.

"Kami hanya mendapat uang bersih sekitar Rp2 juta, sebab dipotong ongkos produksi. Rendahnya harga bata membuat kami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga," katanya.

Tidak adanya organisasi dan aturan baku yang mengikat di antara pengrajin bata, membuat harga jualnya berubah hingga empat kali dalam setahun.

Herpan (36), pria yang telah menjadi pengrajin bata sejak duduk di bangku sekolah dasar, mengungkapkan belum adanya perhatian pemerintah terhadap para pembuat batubata di Kabupaten Bengkulu Selatan.

"Pemerintah belum memberikan perhatian untuk mengembangkan industri batubata. Hanya jatah beras miskin yang dibagikan rutin kepada kami," keluhnya.

Dalam sekali produksi, seorang pengrajin hanya dapat membuat maksimal 10 ribu keping batubata. Proses pengeringan manual memperpanjang waktu pengerjaan. 

"Bata yang selesai dicetak mesti dikeringkan menggunakan angin dengan cara disimpan di "korup" (sebutan untuk rumah produksi bata). Pengeringan dibutuhkan waktu 2-3 minggu, sebab bila dikeringkan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari akan membuat bata mudah pecah,"

Harga bata yang fluktuatif dan cenderung anjlok membuat Sinai, Herpan dan ratusan pengrajin bata lainnya di Bengkulu Selatan mesti menambah penghasilan lainnya sebagai buruh serabutan.

Mereka ada yang bekerja sebagai kuli bangunan hingga buruh di perkebunan kelapa sawit. Cara itu mereka tempuh guna membakar asa yang menumpuk akibat rendahnya harga jual di pasaran.

"Harga bata akan tinggi jika ada pembangunan, seperti proyek bedah rumah. Jika tidak ada kegiatan semacam itu, maka harganya akan murah dan orang-orang akan mencari pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan hidup," pungkas Herpan. 

Pewarta: Sugiharto Purnama

Editor : Riski Maruto


COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2018