Sejumlah petani lada hitam di Kabupaten Lampung Timur mengatakan bahwa harga komoditas unggulan itu anjlok menjadi Rp28.000/kg, padahal harga normalnya Rp100.000/kg.

"Kalau harganya Rp28.000/kg, padahal sudah dijemur, petani rugi besar. Kalau dihitung dengan biaya perawatan dan tenaga kerja, petani tidak mendapat apa-apa," kata Edison, petani lada di Desa Pakuan Aji, Kecamatan Sukadana, Lampung Timur, Kamis.

Menurutnya, petani baru bisa mendapatkan hasil jika harga lada berkisar Rp80.000- Rp100.000/kg.

Sehubungan harga lada anjlok dan banyak petani yang membudidayakan komoditas itu, ia mengharapkan pemerintah melakukan upaya agar harga komoditas perkebunan Lampung bisa pulih ke harga normal.

Berdasarkan pantauan, saat ini di Lampung Timur sedang berlangsung panen lada hitam, namun sayangnya harganya murah.

Kabupaten Lampung Timur di Provinsi Lampung adalah salah satu sentra komoditas lada hitam.

Persebarannya terdapat di Kecamatan Margatiga, Sukadana, Jabung, Melinting, Margasa Sekampung, Gunung Pelindung, Mataram Baru, Bandar Sribhawono, Way Jepara, Labuhan Ratu, Bumi Agung, Batang Hari Nuban.

Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Lampung Timur menyebutkan realisasi produksi komoditas lada tahun 2013 sebanyak 2.199 ton, tahun 2014 sebanyak 2.023 ton, tahun 2015 (1.958 ton), tahun 2016 (1.466 ton), tahun 2017 (1.174 ton) dan tahun 2018 sebanyak 1.138 ton.

Capaian areal luas lahan lada Lampung Timur tahun 2013 sekitar 5.104 hektare, tahun 2014 seluas 5.104 hektare, tahun 2015 (4.637 hektare), tahun 2016 (5.094 ha), tahun 2017 (5.110 ha), dan tahun 2018 seluas 5.362 ha.
 

Pewarta: Hisar Sitanggang/ Muklasin 

Editor : Helti Marini S


COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2019