Kepala Kepolisian Resor Flores Timur AKBP Deny Abrahams mengatakan warga dari dua suku di Desa Sandosi, Pulau Adonara, bersepakat tidak ingin berkonflik lagi pasca-"perang tanding" yang menewaskan enam orang dari kedua belah pihak.

Kapolres mengatakan hal itu berkaitan dengan hasil pendekatan pihaknya bersama personel TNI di lapangan kepada para tokoh dari kedua suku, Suku Kwaelaga dan Suku Lamatokan di Desa Sandosi, Kecamatan Witihama, yang terlibat konflik perebutan lahan.

Baca juga: Perebutkan tanah, enam warga Adonara NTT tewas dalam bentrokan

"Tokoh dari kedua suku menyatakan bahwa kejadian ini merupakan suatu musibah dan mereka tidak ingin berkonflik lagi ke depan," kata AKBP Deny Abrahams kepada ANTARA ketika dihubungi dari Kupang, Senin.

Upaya meredam situasi pascakonflik itu, kata Kapolres, sudah dilakukan saat hari pertama setelah konflik dengan memerintahkan kapolsek untuk mendatangi tokoh adat atau tokoh suku.

"Dari pendekatan ini, mereka mengaku siap mendukung aparat untuk menjaga situasi agar tetap kondusif sampai saat ini," kata Kapolres.

Pada hari Sabtu (14/3), pihaknya juga menggelar pertemuan bersama tokoh dari kedua suku. Mereka sepakat untuk tetap menajaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) agar tetap kondusif.

Baca juga: Jenazah perang tanding memperebutkan tanah di Adonara belum dievakuasi

Baca juga: Enam tewas kasus Perang Tanding di Adonara, polisi tetapkan 8 tersangka

"Akan tetapi, dalam pertemuan itu memang belum dilaksanakan seremonial adat terkait dengan upaya perdamaian. Kami masih dalam proses ke arah itu," kata Kapolres.

Deny mengatakan bahwa pihaknya sudah mengimbau semua pihak menahan diri dan tidak mudah terprovokasi.

Kapolres juga tengah mendorong pemerintah daerah setempat untuk ikut serta dalam upaya mempercepat perdamaian dan pemulihan situasi melalui pembentukan tim gabungan.

Konflik "perang tanding" antarwarga dari Suku Kwaelaga dan Suku Lamatokan di Desa Sandosi, Kecamatan Witihama, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur pecah pada hari Kamis (5/3).

Konflik memperebutkan lahan di area perkebunan Wulen Wata di sekitar Pantai Bani itu menewaskan enam orang, masing-masing di antaranya empat orang dari Suku Kwaelaga, dan dua orang dari Suku Lamatokan.

Pewarta: Aloysius Lewokeda

Editor : Musriadi


COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2020