Pancasila memandu bangsa ini untuk tidak memelihara dendam. Pada momen kekalahan yang kedua, dunia dikejutkan oleh fenomena politik di negeri ini. Jokowi mengajak pesaing beratnya untuk bersatu demi membangun bangsa. Prabowo, kemudian bergabung dalam kabinet bentukan Jokowi bersama pasangannya KH Maruf Amin.
Peristiwa rujukannya dua tokoh politik ini membuat banyak kalangan kaget. Bahkan, menjadi ulasan menarik di media luar negeri. Meskipun demikian, pilihan menyejukkan dari kedua tokoh itu tidak mampu mengobati ketidakpuasan mereka yang tidak menghendaki kenyataan itu terjadi.
Begitulah liku-liku perjalanan kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara dengan pandu utama Pancasila. Semua berakhir dalam suasana kerukunan dan kebersamaan.
Pancasila yang digali dari nilai-nilai luhur bangsa ini berisi panduan ideal tentang bagaimana seharusnya kita menjadi warga bangsa, baik terkait hubungan yang harmonis dengan Tuhan, sesama manusia, maupun dengan alam.
Pancasila, sesuai namanya yang berisi lima dasar, telah mengatur bagaimana kita berperilaku berdasarkan pada nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kekhidmatan dan kebijaksanaan untuk kebaikan bersama, serta keadilan sosial.
Ke depan, Pancasila tetap menjadi pedoman ideal dalam ikhtiar bersama mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Tidak ada kata lain, kita hanya patut bersyukur, Tuhan menganugerahi bangsa ini dengan nilai-nilai luhur Pancasila. Wujud syukur terbaik adalah terus menerus memelihara dan mempraktikkan nilai-nilai itu secara sungguh-sungguh dalam semua aspek kehidupan.
Pewarta: Masuki M. AstroUploader : Musriadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026