.....Diperkirakan masih ada sedikitnya 43 orang penumpang kapal ini yang belum diketahui nasibnya, di antaranya diperkirakan terjebak dalam kapal yang sudah tenggelam.....Bandarlampung (ANTARA Bengkulu) - Tragedi kapal feri tenggelam pun terjadi di perairan Selat Sunda di Lampung Selatan, Rabu subuh.
Kapal Motor Penumpang (KMP) Bahuga Jaya yang membawa 215 penumpang, 80-an kendaraan, saat berlayar dari Pelabuhan Merak, Banten menuju Bakauheni, Lampung, dekat Pulau Rimau Balak, sekitar empat mil dari Pelabuhan Bakauheni, mengalami naas bertabrakan dengan kapal tanker asal Singapura.
KMP Bahuga Jaya ini pun tenggelam.
Sejumlah penumpang KMP Bahuga Jaya yang selamat, saat ditemui di ruang tunggu beralaskan karpet di Pelabuhan Bakauheni, Lampung, menyebutkan mereka tidak mengetahui kejadian sebenarnya yang mengakibatkan kapal ini tenggelam.
"Saat itu, saya bersama kenek sedang tidur di dalam truk di dek bawah kapal. Saya hanya mendengar suara hantaman keras ke kapal kami, kemudian kapal oleng, dan telah dipenuhi oleh air laut," kata Buai Kraton, seorang pengemudi truk pengangkut semen asal Jawa tujuan Bandarlampung.
Menurut dia, saat itu dirinya sulit untuk bisa keluar dari truk, karena kapal tiba-tiba oleng dan dimasuki air laut.
Keneknya, Yuhantoni, juga tidak sempat diselamatkan, karena terjepit kendaraan yang ikut oleng.
"Nasib kenek saya belum saya ketahui sampai sekarang," kata dia, dengan raut wajah muram, mengenang kejadian tiba-tiba dialaminya itu.
Dia menyatakan, sudah berusaha sekuat tenaga untuk menolong temannya itu, namun tidak keburu lagi, karena kapal tenggelam dengan cepat.
Karenanya, ia berusaha dengan cepat dapat naik ke bagian atas kapal untuk mengambil pelampung, kemudian bergegas pula terjun ke laut.
Ia menyebutkan, kapal feri itu tenggelam tidak lebih dari 25 menit sejak terjadi tabrakan dengan kapal tanker Norgas Canthinka berbendera Singapura.
Sejumlah penumpang selamat lainnya, juga membenarkan proses tenggelam kapal feri tersebut sangat cepat, sehingga menyulitkan mereka untuk mencari pelampung dan sekoci guna menyelamatkan diri.
Empat penumpang kendaraan pribadi asal Muaraenim, Sumatera Selatan, menyebutkan, mereka sedang tidur di dalam mobil saat tabrakan dua kapal itu berlangsung.
Mereka mengaku, sama sekali tidak diingatkan oleh awak kapal agar tidak tidur di dalam kendaraan.
"Tidak ada peringatan dari awak kapal agar kami tidak tidur di dalam kendaraan," kata Mahfud, warga Sumsel itu pula.
Dia bersama istri dan dua anggota keluarganya dalam perjalanan pulang ke kampung halamannya, setelah menjenguk anaknya yang kuliah di Bandung, Jawa Barat.
Ia pun menuturkan, kapal feri itu berlayar secara normal sejak dari Pelabuhan Merak, Banten, sehingga tidak memiliki firasat akan terjadi tabrakan tersebut.
Apalagi, selama ini, dia menyebutkan sering menggunakan jasa kapal penyeberangan rute Merak-Bakauheni, sehingga pelayaran pada malam hari bukan hal aneh baginya.
"Yang saya tahu dan rasakan, kapal langsung oleng. Kami pun langsung berhamburan keluar dari kendaraan, kemudian satu anggota keluarga mencari pelampung," kata dia lagi.
Saat itu, terjadi kepanikan luar biasa, sehingga tidak ada yang memberikan aba-aba untuk segera mencari pelampung dan naik ke sekoci.
"Lemari tempat menyimpan pelampung saya dobrak paksa, agar bisa mengambil pelampung tersebut," kata Fanani, korban selamat lainnya.
Dia menceritakan, bersama anggota keluarganya saat itu, berusaha naik ke bagian atas kapal.
Setelah kapal feri itu nyaris tenggelam seluruhnya, barulah mereka terjun ke dalam air.
"Sebagian penumpang lainnya juga menggunakan sekoci untuk menyelamatkan diri saat kapal sudah tenggelam," kata dia lagi.
Para penumpang yang selamat itu, menyampaikan rasa syukur karena tidak ikut menjadi korban meninggal dalam musibah ini.
Namun mereka umumnya masih merasakan kesedihan, mengingat nasib nahas dialami puluhan penumpang kapal lainnya yang tidak dapat menyelamatkan diri.
Berapa Korban Tewas?
Hingga Rabu sore ini, jumlah korban tewas akibat KMP Bahuga Jaya tenggelam ini juga masih simpang siur.
Namun, enam jenazah telah dikirimkan ke RSUD di Kalianda, Lampung Selatan, dan dua lagi ke RSU Cilegon, Banten.
Menurut Burhan, salah seorang petugas di kamar mayat RSUD Kalianda, enam korban tewas yang masuk ke RS ini adalah tiga pria dan tiga wanita, termasuk seorang anak kecil.
"Diperkirakan korban itu meninggal karena tenggelam, karena banyak busa keluar dari mulut mereka," ujar dia.
Dia menyebutkan, hanya satu orang yang tewas itu terluka pada bagian keningnya, selebihnya tidak menderita luka di bagian tubuhnya.
"Melihat hal itu, korban tewas ini karena tenggelam," kata dia lagi.
Jumlah korban tewas akibat kapal feri tenggelam ini, diperkirakan masih bisa bertambah lagi, mengingat masih ada penumpang yang dilaporkan hilang.
Feri KMP Bahuga Jaya tenggelam dekat Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan, sekitar empat mil dari pelabuhan penyeberangan itu, saat berlayar dari Pelabuhan Merak, Banten menuju Bakauheni.
Kapal tersebut dilaporkan mengangkut ratusan kendaraan roda empat dan 200-an lebih penumpang pejalan kaki.
Kapal feri Bahuga Jaya tenggelam di Selat Sunda sekitar pukul 04.20 WIB.
Sedangkan kapal tanker Norgas Canthinka berbendera Singapura, yang diduga bertabrakan dengan KMP Bahuga Jaya itu, kini telah ditarik dan dibawa ke Pelabuhan Panjang, Bandarlampung.
Kapolda Lampung Brigjen Jodie Rooseto memperkirakan masih ada belasan korban lain yang dilaporkan hilang, dan kemungkinan mereka terjebak dalam kapal yang telah karam.
Menurut Kapolda, penumpang KMP Bahuga Jaya yang tenggelam itu seluruhnya tercatat sebanyak 215 orang.
Hingga saat ini dilaporkan sebanyak 90 orang penumpang kapal feri itu berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat kini berada di Pelabuhan Bakauheni, Lampung, serta 75 penumpang kapal yang selamat telah pula dievakuasi ke Pelabuhan Merak, Banten.
Diperkirakan masih ada sedikitnya 43 orang penumpang kapal ini yang belum diketahui nasibnya, di antaranya diperkirakan terjebak dalam kapal yang sudah tenggelam.
Kecelakaan dalam pelayaran kapal feri rute Merak-Bakauheni hingga kini, sudah berulangkali terjadi, seperti kejadian terbakar kapal feri sebelumnya yang memakan korban jiwa.
Berkaitan itu, keamanan dan keselamatan pelayaran kapal feri jenis "roll on roll off" (ro-ro) dalam pelayaran di Selat Sunda ini, masih perlu terus diperbaiki oleh semua pihak terkait.
Standar kelaikan kapal yang akan berlayar, kesiapan dan kelengkapan peralatan yang diperlukan, prosedur penyelamatan dalam kondisi darurat, dan kesiagaan awak kapal sangat diperlukan.
Semua itu, diperlukan untuk mencegah musibah seperti dialami KMP Bahuga Jaya maupun kapal feri lainnya, tidak sampai berulang menimbulkan banyak korban jiwa lagi. (ANT)
Pewarta: Hisar Sitanggang: Helti Marini S
COPYRIGHT © ANTARA 2026