.....Sekitar 200 ikat atap rembio yang terbuat dari daun nifa belum habis terjual, kondisi ini berbeda dengan beberapa tahun silam omset masih tinggi.....
Bengkulu (Antara Bengkulu) - Para perajin atap rembio di Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu mengeluh karena kurangnya pembeli produk kerajinan itu, karena tersaingi atap dari seng, genteng fiber, dan yang lainnya.

"Sekitar 200 ikat atap rembio yang terbuat dari daun nifa belum habis terjual, kondisi ini berbeda dengan beberapa tahun silam omset masih tinggi ," kata salah seorang perajin, Aminah (58), di Jalan Danau, Kelurahan Dusunbesar, Kota Bengkulu, Rabu.  Ia mengatakan akibat pembeli sepi maka  usahanya makin terjepit karena kalah bersaing dengan produk atap moderen.

Menurut dia, dari segi keamanan dan kualitasnya, memang kalah dengan atap moderen. Maka, dirinya hanya mengharapkan pada warga masyarakat yang membutuhkan atap yang terbuat dari bahan alami untuk koleksi.
Kelemahan atap rembio, kata dia, selain tidak tahan lama, juga rawan terbakar pada saat musim kemarau.

"Namun, bagi masyarakat yang hobi seni budaya alam, biasanya masih membutuhkan atas rembio tersebut," katanya. Ia mengatakan peminat atap tradisonal tersebut sebagian besar warga tidak mampu membeli atap buatan modren, sedangkan penggunaannya adalah untuk atap usaha batu bata dan kandang ternak, ujarnya.

Atap rembio bisa bertahan antara dua hingga tiga tahun, kalau dulu atap itu digunakan sebagai pelindung rumah dari terpaan hujan dan cuaca panas sebelum adanya seng dan genteng fiber, terutama bagi masyarakat desa dan perkampungan. Harga daun rembio  saat ini berkisar Rp4.000/satu ikat, dan setiap minggu paling tinggi terjual sepuluh ikat..

"Kami mulai meninggalkan membuat atap rembio karena peminatnya sangat minim, namun bila ada pesanan baru dibuat sejumlah pesanan tersebut," tambahnya. Perajin lainnya Mustopa mengatakan, meskipun permintaan akan atap rebio itu makin lesu, namun ada juga pelanggan lama dari luar Kota Bengkulu sepert i dari Kabupaten Kepahiang dan Rejang Lebong.

Peminat atap rembio tersebut, lebih domian para petani perkebunan karena untuk digunakan atap pondok dan tempat tinggal. Namun saat ini ada juga pengusaha restoran makanan juga mulai memakai atap rembio untuk tempat lesehan dikarenakan atap rembio lebih berkesan seperti suasana desa yang tradisional, tuturnya.(ADM/Z005)




: Rangga Pandu Asmara Jingga

COPYRIGHT © ANTARA 2026