Gerakan Ciliwung Bersih (GCB) menginisiasi program pengolahan limbah sungai menjadi energi dalam bentuk briket (pelet) yang dapat dimanfaatkan untuk pengganti bahan bakar gas.

"Bisa sebagai pengganti gas dan cocok untuk warung atau bahkan skala besar sebagai bahan bakar boiler untuk industri pupuk, tekstil, serta pembangkit listrik," kata Ketua GCB, Peni Susanti dalam keterangannya kepada media, Senin.

Secara khusus, program ini dirancang untuk mengolah sampah sungai menjadi listrik dan diperuntukkan bagi masyarakat di sepanjang aliran Sungai Ciliwung dengan produk akhirnya adalah syntetic gas (syngas) yang mampu menjadi substitusi bahan bakar untuk genset/diesel.

Listrik yang dihasilkan dari unit instalasi tempat olahan sampah sungai (TOSS) GCB ini akan dipergunakan untuk mengoperasikan mesin pompa dan penjernih air agar layak untuk memenuhi kebutuhan mandi, cuci dan kakus (MCK).

Sasaran utama dari program ini adalah upaya meningkatkan kualitas air sungai dan mengembalikan fungsi sungai sebagai bahan baku air bersih.

Pembangunan instalasi TOSS-GCB merupakan kerja sama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pemprov DKI Jakarta, PT PLN (Persero), yaitu PT Indonesia Power, PDAM DKI Jakarta dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (Indofood) serta perusahaan rintisan (startup) di bidang supply-value chain energi baru dan terbarukan bernama comestoarra.com.
 
Warga mengamati permukiman di bantaran sungai Ciliwung, Manggarai, Jakarta, Rabu (15/4/2020). (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/wsj.)
Menurut Peni Susanti, tujuan didirikan GCB adalah untuk menggalang kepedulian masyarakat dalam menjaga kebersihan serta kelestarian aliran Sungai Ciliwung.

Sedangkan Head of Corporate Communications Division PT Indofood Sukses Makmur Tbk Stefanus Indrayana mengatakan peran aktif Indofood terhadap pelestarian lingkungan terangkum dalam program Corporate Social Responsibility perlindungan lingkungan.

Indofood mendukung berbagai upaya yang dilakukan dalam rangka menjaga kelestarian lingkungan, khususnya upaya pengelolaan sampah. Terlebih jika upaya dilakukan dengan mengusung pendekatan Extended Stakeholder Responsibility (ESR).

Pendekatan ini memungkinkan semua pihak bergotong royong sesuai kapasitas dan kompetensinya masing-masing sehingga menghasilkan dampak yang lebih signifikan.

Penanganan sampah khususnya di daerah ibukota umumnya memakai metode 3P (pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan). Seiring berjalannya waktu, maka banyak teknologi untuk mengolah sampah tersebut, diantaranya metoda kompos, black soldier fly (Hermetiaillucens), digester hingga daur ulang sampah plastik.

Tetapi untuk sampah sungai, terdapat kendala di sisi pengumpulan dan pengangkutan sampah terutama bila sampah tersebut berjenis biomassa dengan dimensi besar dan padat sehingga pengolahannya menjadi tantangan tersendiri.

Menurut pengawas Sungai Ciliwung di wilayah Tanah Abang, Ahmad Jidon sebagian besar sampah adalah kiriman dengan jenis biomassa seperti kayu, bambu dan belukar rerumputan.

Dengan program TOSS-GCB yang membutuhkan bahan baku dari sampah biomasa, permasalahan tersebut bisa terjawab. Bahkan bisa memberikan nilai tambah berupa energi panas dan energi listrik sehingga sampah tidak mengalir dan menumpuk di hilir sungai.

Peni berharap program TOSS-GCB (www.toss-gcb.org) mampu direplikasi oleh seluruh komunitas di sepanjang aliran Sungai Ciliwung dengan dukungan penuh dari pemerintah pusat, Pemprov DKI Jakarta serta badan usaha negara/ swasta.

Unit TOSS GCB berlokasi di Jalan Penjernihan I, Karet Tengsin, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, lokasi itu juga akan dijadikan tempat pelatihan dan wisata lingkungan dimana kegiatan perdananya akan dimulai awal Juli 2020 dengan prioritas untuk para penggiat KPC.

Pewarta: Ganet Dirgantara

Editor : Helti Marini S


COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2020