Bengkulu (Antara Bengkulu) - Rumah Budaya Kedai Proses Bengkulu menggelar pameran sketsa "Pasar Subuh Riwayatmu Kini" dalam rangka memperingati hari kelahiran Pancasila yang diikuti beberapa perupa daerah itu.

"Kegiatan tersebut untuk memperingati kelahiran Pancasila 1 Juni, serta mengingatkan kembali kepada generasi penerus bangsa bahwa Pancasila sebagai dasar Negara kita," kata inisiator kegiatan tersebut, Arif Game Bell, di Kota Bengkulu, Kamis.

Ia menjelaskan, kegiatan dilaksanakan pada Sabtu tanggal 1 Juni dan beberapa peserta yang menyatakan siap antara lain Medi, Oktarini, Topik Ajo, Sri hardiyanti, Arif Gamebell, Leo Stife, dan lainnya.

"Tempat pelaksanaannya di Taman Budaya Provinsi Bengkulu yang menjadi tempat berkumpulnya para penggiat seni," kata dia.

Arif juga menjelaskan, rangkaian kegiatan lainnya yakni pembacaan teks Pancasila bersama-sama, diskusi seni bersama Medio Sulistio sebagai pemantik diskusi, apresiasi seni pertunjukkan dan sastra oleh Ilhamdi Sulaiman, pembuatan komik sederhana, serta pesta musik reggae yang sediakan akan diikuti oleh beberapa musik di daerah tersebut seperti Team Mlehoy Band, Pavarasta, Kelompok Pengamen Jalanan Bengkulu, "Mbah Baba" serta kelompok lainnya.

"Dengan segala kerendahan, Kedai Proses mengundang terbuka masyarakat Bengkulu untuk ikut hadir dan mengapresiasi kegiatan peringatan Pancasila dimaksud," harap Arif Gamebell.

Arif juga menjelaskan, Kepala Taman Budaya Bengkulu Rep Andres mengapresiasi kegiatan tersebut apalagi dikaitkan dengan hari lahir Pancasila.

Kepala Taman Budaya Bengkulu mengatakan, Pancasila merupakan dasar Negara kita yang merupakan landasan idiil dari semua hukum dan peraturan yang ada di Indonesia.

"Pancasila merupakan bagian krusial dari Negara kita, maka hari lahirnya pun juga penting untuk kita peringati dan kita renungkan maknanya,"  ujar Arif menirukan Rep Andres.

Menyinggung mengapa membuat acara semacam itu, ia menjelaskan, dalam kehidupan sehari-hari sekarang ini sepertinya sulit untuk sekadar mendengar Pancasila disebutkan.

"Bukankah Pancasila selalu bersama-sama kita selama ini? Tidakkah kita sadar bahwa Pancasila sebagai dasar negara, falsafah bangsa, ideologi nasional, dan pandangan hidup bangsa. Betapa rendah diri kita sebagai bangsa membiarkan dasar negara dalam keadaan sakit karena ulah kita semua anak bangsa," kata dia.

Pancasila yang terlupakan, lanjut dia, membuat bangsa ini begitu mudahnya saling enyalahkan kehidupan beragama.

"Kita pun mudah sekali saling membunuh dengan sesama anak negeri. Dimana nilai persatuan bangsa ini? Apalagi bicara kerakyatan dan selalu bermusyawarah mencapai kata sepakat. Keadilan pun rasanya masih jauh panggang dari api," ujar Arif Gamebell. (rls)

*

Pewarta:

Editor : Helti Marini S


COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2013