Profesor Riset Sri Yudawati Cahyarini yang juga peneliti bidang geologi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan penelitian terhadap karang dapat membantu mengungkap data iklim masa kini hingga masa lampau.

"Ketersediaan sumber daya terumbu karang yang melimpah di Indonesia tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan, namun juga mampu menyediakan sumber ilmu pengetahuan serta menyediakan data dan informasi perubahan iklim dan lingkungan," kata Sri Yudawati saat menyampaikan orasi ilmiah dalam acara Pengukuhan Profesor Riset yang diadakan LIPI di Jakarta, Rabu.

Dalam orasi Profesor Riset yang berjudul "Kontribusi Penelitian Iklim Masa Lampau dalam Memahami Perubahan Iklim", Sri Yudawati menuturkan studi iklim masa lampau dapat menggunakan arsip karang Scleractinia atau disebut juga karang batu dari genus Porites.

Ia mengatakan data studi iklim masa lampau (paleoclimate) bisa digunakan untuk verifikasi data model prediksi iklim supaya lebih akurat sehingga dapat mendukung kegiatan adaptasi dan mitigasi bencana iklim lebih baik.



"Kombinasi karang hidup dan mati menyediakan data iklim secara kontinu dari masa kini ke ribuan tahun bahkan ratusan ribu tahun lampau dengan resolusi bulanan," ujarnya.

Kandungan geokimia karang dapat digunakan untuk merekonstruksi suhu permukaan laut, presipitasi, dan salinitas permukaan laut.

Selain itu, kata Sri Yudawati, dengan menggunakan sinar-X atau rontgen dapat diidentifikasi lapisan pertumbuhan tahunan karang Porites dan juga kecepatan kalsifikasi karang.

Dengan mengkorelasikan suhu dan pertumbuhan tahunan karang dapat diketahui pengaruh suhu terhadap pertumbuhan karang. Hasil penelitian seperti itu telah digunakan untuk mendukung kegiatan konservasi terumbu karang, seperti dalam program Coral Reef Rehabilitation and Management Program (COREMAP) untuk penyelamatan terumbu karang di perairan nasional.

Sri Yudawati mengatakan masih sedikit catatan iklim dari karang yang tersedia di perairan Indonesia yang dipublikasikan. Beberapa yang telah dipublikasikan antara lain catatan dari karang Bunaken dan Nusa Penida serta Kepulauan Mentawai.

Kemudian, catatan karang tertua dengan umur 123 ribu tahun lampau dari karang Luwu. Catatan karang hidup dari Kendari, Simelue, Ambon, Kepulauan Seribu, dan karang dari Timor.

Sri Yudawati juga menuturkan publikasi terbaru diperoleh dari catatan karang abad pertengahan, yakni dari karang Mentawai dan Selat Sunda.

Untuk lebih memahami variabilitas dan tren iklim di wilayah regional Indonesia dan pengaruhnya terhadap iklim global, maka masih diperlukan rekaman iklim karang dari wilayah Indonesia lainnya.*
 

Pewarta: Martha Herlinawati Simanjuntak

Editor : Musriadi


COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2021