Pangkalpinang (Antara Bengkulu) - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Provinsi Bangka Belitung mencatat 60 persen dari 657.510 hektare hutan di provinsi itu dalam kondisi sangat kritis karena aktivitas penambangan bijih timah.

"Hanya 28 persen hutan di Bangka Belitung dalam kondisi baik, sementara sudah sangat kritis, kritis dan 12 persen dalam kondisi agak kritis," kata Direktur Eksekutif Walhi Babel, Ratno Budi di Pangkalpinang, Senin.

Ia menjelaskan kerusakan hutan ini karena pertambangan timah yang merajalela dan tidak memiliki peraturan yang jelas.

"Ini cukup memprihatinkan dan diperkirakan kerusakan hutan ini akan terus bertambah karena fakta di lapangan bahwa aktivitas pertambangan tidak hanya dilakukan di wilayah pertambangan (WP) yang telah ditetapkan, tetapi sudah memasuki wilayah hutan dan pemukiman penduduk," ujarnya.

Ia mengatakan hutan Bangka Belitung (Babel) yang menghasilkan hasil hutan dari jenis meranti-merantian berupa kayu tiang, kayu api, junjung atau kayu penyangga tanaman lada putih dan kayu bulat.

Kayu meranti, membalong, mendaru dan keregas di Babel termasuk kayu kualitas kelas satu dan banyak diperdagangkan keluar daerah.

"Kerusakan hutan ini juga dipicu penebangan kayu liar dan perkebunan skala besar, sehingga akan mengganggu keseimbangan hidup flora dan fauna di hutan tersebut," ujarnya.

Menurut dia, saat ini, berbagai jenis flora dan fauna khas Bangka Belitung mulai punah, karena hutan tempat mereka berkembang biak rusak berat dan sulit direklamasi.

"Kerusakan hutan ini juga akan berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat yang semakin sulit mengembangkan lahan pertanian, perkebunan dan mereka tidak bisa lagi memanfaatkan hasil hutan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga mereka," ujarnya.

Ia mengatakan, jauh sebelum pertambangan timah, tingkat kesejahteraan petani sudah sangat lebih mencukupi, tidak hanya itu, ketersediaan pangan juga mencukupi karena ketersediaan lahan yang subur sangat memadai untuk mengembangkan berbagai tanaman pangan, perkebunan dan lainnya.

"Saat ini, petaniakan  mengembangkan tanaman pangan ini sulit, karena hampir seluruh lahan sudah menjadi lubang-lubang bekas tambang dan perkebunan sawit," ujarnya. (Antara)

Pewarta: Oleh Aprionis

Editor : Helti Marini S


COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2013