Surabaya (Antara) - "Siappp...!!!," begitulah kata yang terucap dari mulut dua pria berseragam di hadapan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, 12 Februari 2014.

Saat itu, di Gedung DPRD Jatim, Gamawan Fauzi bertanya, "Apakah saudara siap menjalankan tugas sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim?".

Sejak jawaban "siap" itulah, Soekarwo-Saifullah Yusuf resmi menjadi orang nomor satu dan dua di provinsi ini untuk 2014-2019 sesuai Surat Keputusan Presiden RI Nomor 135/P/2013 tertanggal 29 November 2013.

Ya, selama lima tahun ke depan, Jawa Timur tetap di bawah kendali duet "Pak Brengos", julukan keduanya.

Namun tanpa dinyana, selang dua hari dari pengambilan sumpah dan pelantikan keduanya, justru tugas berat ada di depan mata yakni Gunung setinggi 1.730 mdpl meletuss... (erupsi) !.

Abu vulkanik dari letusan Gunung Kelud pada Kamis Jumat (14/2) Wage pukul 22.56 WIB itu pun menyelimuti sejumlah wilayah di Tanah Air dan menutup sejumlah jalur penerbangan.

Tidak hanya itu, BNPB pun mencatat tiga orang warga meninggal dunia dan 76.388 jiwa pada lima kabupaten/kota, yaitu Kabupaten Kediri 66.139 jiwa, Kota Batu 3.220 jiwa, Kabupaten Blitar 2.070 jiwa, Kabupaten Malang 3.610 jiwa, dan Tulungagung 1.349 jiwa.

Di luar itu, sejumlah objek wisata, lahan pertanian, kehidupan fauna atau hewan ternak, dan aktivitas lain pun menjadi "korban", terutama sejumlah objek wisata di kawasan Yogyakarta yang sering dikunjungi wisatawan mancanegara.

"Sekitar 3.000 hingga 4.000 orang batal naik ke Candi Borobudur, akibat hujan abu dampak letusan Gunung Kelud di Jawa Timur," kata Kepala Unit Taman Wisata Candi Borobudur, Bambang Irianto.

Jajaran Pemprov Jatim pun bergerak cepat dengan langsung menggelar rapat dengan sejumlah pejabat dinas membahas penanggulangan bahaya erupsi Gunung Kelud di Surabaya (14/2).

"Gubernur Jatim menyatakan ini bencana provinsi, bukan bencana nasional, meski abu vulkanik Kelud menyebar kemana-mana. Kami akan berusaha semaksimal mungkin memberikan dan membantu yang terbaik untuk warga," ujar Wagub Jatim H Saifullah Yusuf kepada wartawan setelah mengikuti rapat itu.

Pemprov bekerja sama dengan aparat terkait mendirikan 117 posko di Kediri yang potensinya hingga 60 ribu jiwa, lalu di Blitar ada 45 ribu jiwa yang disiapkan dengan 63 titik posko dan Malang dua titik posko dengan potensi 4.500 jiwa.

Hingga Jumat (14/2) siang, data yang masuk ke Pemprov Jatim mencatat 14 ribu jiwa mengungsi di Malang, sekitar 4.000 jiwa di Kediri, 2.000 jiwa di Blitar, 170 jiwa di Tulungagung dan 205 jiwa di Jombang.

Ya, ibarat buku (Habis Gelap, Terbitlah Terang) karya tokoh emansipasi perempuan Raden Ajeng Kartini: Habis Pelantikan, Terbitlah Kelud ! Itulah cobaan bagi sang nasionalis (Soerkawo) dan sang religius (Saifullah Yusuf)...

Apakah kemampuan manajerial "Pak Brengos" yang terbukti mampu membuat provinsi nasionalis-religius ini dalam lima tahun lalu (2008-2013) mendapat acungan jempol dari berbagai pihak itu akan dapat "menyelesaikan" Kelud?.

Tentu, rakyat Jatim banyak menaruh asa dari bersatunya eksekutif, legislatif dan yudikatif yang selama ini terlihat dalam jajaran forum pimpinan daerah di Jatim, mulai dari Kapolda Jatim, Pangdam V/Brawijaya, Kejaksaan Tinggi, Pangarmatim dan lainnya, hingga jajaran legislatif, selama ini.

Tak berlebihan "Pak Brengos" yang "jos" (berprestasi) dalam ekonomi, politik, sosial budaya, kesejahteraan rakyat, pertahanan keamanan, itu harus "jos" pula dalam mengatasi bencana geologi, bencana ekologi, bencana energi, dan bencana maritim.

Boleh-boleh saja, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim tahun lalu mencatat tingkat pertumbuhan ekonomi Jatim mencapai 7,27 persen. yang merupakan Capaian kinerja ekonomi ini lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional.

Boleh-boleh juga, Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Robert Blake, mengagumi Jatim sebagai kawasan yang sangat potensial. "Pertumbuhan ekonominya sangat bagus di tengah dinamika Indonesia saat ini," kata Blake saat menemui Soekarwo di Gedung Negara Grahadi, awal pekan lalu.

Ya, prestasi "Pak Brengos" selama lima tahun lalu mampu membuat Jatim "berbicara" di tingkat nasional dan internasional.

Duet sang nasional (Soekarwo) dan sang religius (Saifullah Yusuf) itu benar-benar pro-rakyat, karena kebijakan pemerintah pusat yang merugikan rakyat Jatim pun ditolak, seperti impor bahan pokok atau kebijakan anti-tembakau.

Namun, prestasi itu tidak akan ada artinya bila "Pak Brengos" tidak mampu "menyulap" bencana geologi, ekologi, energi, dan maritim menjadi potensi yang justru akan membuat provinsi dengan hampir 40 juta rakyat itu menorehkan prestasi yang lebih mencengangkan lagi.

Selamat bertugas Soekarwo-Saifullah Yusuf untuk memimpin Jatim, selamat bertugas "mengatasi" Gunung Kelud, selamat!. (Antara)

Pewarta: Oleh Fiqih Arfani

Editor : Helti Marini S


COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2014