Enggano, Bengkulu,  (Antara) - Pariwisata di salah satu pulau terluar di utara Provinsi Bengkulu, Pulau Enggano, jalan di tempat akibat minimnya fasilitas dan infrastruktur.

      "Kalau fasilitas sudah ada, jalan sudah bagus, masyarakat sendiri pasti berbenah (untuk menunjang wisata)," kata warga Desa Malakoni Muhammad Nasir kepada Antara di Enggano, Bengkulu, Sabtu.

      Menurut dia, jika listrik tersedia penginapan akan cepat bermunculan di Enggano. "Beberapa memang sudah mulai membuka penginapan, tapi memang belum ramai".

      Sempat wisatawan asing berdatangan ke Sebalik untuk berselancar. Namun, menurut dia, jumlahnya sangat menurun atau sangat jarang.

      "Mereka biasanya menyewa sampan ke masyarakat untuk sampai ke Sebalik yang lebih dekat dengan Samudera Hindia. Di sisi pulau lainnya memang berbeda, lebih indah, kalau di sisi ini kan hanya pantai yang landai," ujar dia.

      Lokasi lain yang, menurut warga Malakoni lain Surti Herawati, menjadi lokasi yang sering di kunjungi wisatawan asing di sekitar Pulau Dua.

      "Pantainya bagus di sana, berpasir putih. Yang datang wisatawan asing dengan kapal sendiri dan biasanya tidak mampir ke Enggano," ujar dia.

      Sementara itu, menurut warga Malakoni Budi Pratama, wisatawan yang datang biasanya untuk berselancar dan mendirikan tenda selama minimal satu minggu di Sebalik.

      "Tapi akhir-akhir ini semakin jarang yang datang, karena memang fasilitas sangat minim. Penginapan juga masih sangat jarang, akses jalan pun buruk untuk wilayah tersebut," ujar dia.

      Sempat dibuat tempat singgah wisata tahun 2005, tapi sampai tempat tersebut rusak dan ditutupi alang-alang belum pernah digunakan sama sekali, kata Budi.

      Pulau Enggano merupakan salah satu pulau terluar yang dimiliki Indonesia terletak di utara Provinsi Bengkulu. Perairan pulau yang memiliki populasi lebih dari 2800 orang ini berbatasan langsung dengan India.

      Berdasarkan pantauan Antara, jalan utama sepanjang 38 kilometer (km) yang menghubungkan setiap desa di pulau ini rata-rata mengalami rusak berat dan rusak. Kerusakan terparah ada di jalur antara Desa Kaana dengan Desa Malakoni sepanjang lebih dari 10 km dengan kedalaman kubangan hingga dada orang dewasa. ***1***

Pewarta: Oleh Virna P Setyorini

Editor : Triono Subagyo


COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2015