Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan Turki bertekad melanjutkan usaha melindungi Yerusalem berarti membela kemanusiaan, perdamaian, serta penghormatan kepada berbagai agama.

“Masjid Al Aqsa di Yerusalem menghadapi lebih banyak pelecehan, dan identitas kota kuno tersebut dihapus oleh Israel selangkah demi selangkah,” kata Erdogan dalam pidatonya di Istanbul, Jumat, di hadapan Liga Parlemen untuk Al Quds (Yerusalem).

“Nenek moyang saya melayani Yerusalem selama 400 tahun, warisan mereka tidak dapat dihapuskan,” ujar Erogan, mengingat kembali era Ottoman.

Ia mengatakan bahwa siapa pun yang mencari sosok "firaun modern" tidak perlu mencari jauh-jauh.

Erdogan merujuk pada Israel yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang tanpa ampun telah membunuh 35.000 warga Palestina di Jalur Gaza dalam 203 hari terakhir.

“Netanyahu, seperti penjahat-penjahat sebelum dia, telah menorehkan namanya dalam sejarah dengan rasa malu sebagai 'penjagal' Gaza,” kata Erdogan.

Karena warga Palestina di Gaza telah melakukan perlawanan selama berbulan-bulan meskipun ada banyak rintangan, Erdogan mengatakan tidak ada negara yang bisa tinggal diam dalam menghadapi genosida.

“Kami akan terus melihat saudara-saudara kami, Hamas, yang mempertahankan tanah air mereka dari penjajah, sebagai Perlawanan Nasional Palestina,” kata Presiden Turki itu.

Erdogan menyebut Turki merupakan satu-satunya negara yang menerapkan pembatasan ekspor terhadap Israel pada 54 kelompok produk.

Turki juga berada di garis depan pemberian bantuan ke Gaza. Sejak perang meletus pada 7 Oktober 2023, Ankara telah mengirimkan hampir 50.000 ton bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza melalui 13 pesawat dan sembilan kapal.

Lebih lanjut, Erdogan mengatakan dukungan militer dan diplomatik Amerika Serikat kepada Israel tidak memberikan kontribusi pada solusi, tetapi malah memperburuk masalah.

“Meski 35.000 orang dibunuh tanpa ampun di Gaza, persetujuan paket bantuan militer senilai 25 miliar dolar AS ke Israel oleh Senat AS adalah indikasi paling jelas mengenai hal ini,” ujar dia, mengacu pada paket bantuan baru yang disahkan pekan lalu untuk Israel.

Khusus untuk Israel, menurut Erdogan, nilai-nilai Barat termasuk kebebasan, demokrasi, supremasi hukum, kebebasan berekspresi, berpikir, dan pers telah dilupakan dan dikesampingkan.

Presiden Erdogan memuji Liga Parlemen Yerusalem sebagai suara global dan nafas perjuangan Palestina.


Sumber: Anadolu

Pewarta: Yashinta Difa Pramudyani

Editor : Musriadi


COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2024