Jakarta (Antara) - Hujan yang mengguyur Kota Bogor, Jawa Barat, sejak Rabu (1/3) siang tidak menyurutkan ribuan pelajar untuk tetap berdiri menanti kedatangan Raja Arab Saudi Salman Bin Abdul Aziz Al-Saud.
Berjajar sejak pagi hari pukul 09.00 WIB, 50 ribu pelajar yang dikerahkan oleh Pemerintah Kota Bogor tak jemu menanti hingga pukul 13.00 WIB untuk sekedar melambaikan tangan dan melihat langsung rombongan kerajaan Arab Saudi yang dipimpin langsung oleh Raja Arab saudi ke-7 tersebut.
Raja penjaga dua kota suci umat muslim, Makah Al Mukaromah dan Madinah Al Munawarah itu membawa 1.500 orang dalam rombongan dalam kunjungan kenegaraannya ke Indonesia.
Kunjungan kenegaraan Raja Salman merupakan kunjungan kedua Raja Arab Saudi ke Indonesia. Raja Faisal bin 'Abdul 'Aziz bin 'Abdurrahman as-Saud (Raja Faisal), Raja ke-2 Arab saudi, pernah melaksanakan kunjungan kenengaraan ke Indonesia pada 1970.
Di Indonesia, kunjungan Raja Arab Saudi setelah 47 tahun, menjadi peristiwa yang menyita perhatian masyarakat. Di kanal-kanal TV dan juga media sosial pembicaraan soal kunjungan Raja dari Timur Tengah itu seperti tiada henti. Begitu pula perbincangan di sejumlah warung kopi.
Sementara Presiden Joko Widodo juga tak kalah hangat menyambut pemimpin Wangsa Saud saat ini. Tiba di Bandara Halim Perdana Kusuma sekitar pukul 12.45 WIB, Raja Salman disambut oleh Presiden Joko Widodo. Salaman dan cium pipi kanan dan kiri (cipika-cipiki) mewarnai pertemuan kedua pemimpin negara berpenduduk mayoritas muslim tersebut.
Raja Salman tiba dengan mengenakan jubah atau "bisht" cokelat madu dan ornamen sulaman tepi jubah berwarna keemasan pada kerah dan lengan serta "ghutrah" atau penutup kepala, sorban motif bergaris merah, lengkap dengan pengencang berwarna hitam untuk penutup kepala.
Presiden Jokowi menyambutnya dengan mengenakan pakaian jas hitam dan kemeja putih serta dasi merah dengan peci hitam.
Keduanya langsung menuju Istana Bogor dengan dua kendaraan yang berbeda.
Sementara antusiasme masyarakat yang menyambut kedatangan Raja Salman terlihat mulai di depan halaman VIP dengan melambaikan tangan. Sejumlah masyarakat juga menyaksikan iring-iringan kendaraan di depan pintu gerbang Bandara Halim PK. Beberapa dari masyarakat ada yang melafalkan takbir dan selawat.
Hubungan Ketulusan
Pengamat Komunikasi Politik Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing melihat komunikasi yang dijalin saat kunjungan Raja Salman kali ini memiliki beragam makna. Namun demikian, yang lebih terlihat sebuah hubungan yang tulus antarkedua negara.
"Melampaui hubungan politis, dalam pengertian tidak sekedar politis, bahkan politik relatif tidak ada. Ini terlihat hubungan yang sifatnya ketulusan yang transedental," katanya.
Ia menjelaskan, masalah politik relatif tidak tampak dalam kunjungan kali ini, terlihat dari sejumlah nota kesepahaman yang ditandatangani.
Dalam sepuluh nota kesepahaman yang ditandatangani terkait pemberdayaan pemerintahan kedua belah pihak, terkait perekonomian, kebudayaan, pendidikan, keagamaan dan kerja sama pemberantasan kejahatan.
Sementara antusiasme masyarakat dalam mengikuti kunjungan Raja Salman kali ini, menunjukan hubungan religius antarkedua negara.
Raja Salman sebagai penjaga dua kota suci umat Islam, Mekkah dan Madinah, kota suci umat Islam, memiliki arti yang sangat penting bagi mayoritas masyarakat Indonesia yang berpenduduk muslim, katanya.
Gejolak yang relatif tidak ada antara kedua negara dan kunjungan pertama setelah 47 tahun lalu Raja Arab Saudi melawat ke Indonesia, semakin memicu rasa keingintahuan masyarakat.
Penganugerahan penghargaan Tanda Kehormatan Bintang Republik Indonesia Adipurna kepada Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz al-Saud oleh Presiden Joko Widodo menjadi bukti komunikasi yang baik bagi kedua negara,.
Setelah sebelumnya Presiden Jokowi pada September 2015 mendapatkan penghargaan "King Abdul Azis Medal" yang disampaikan langsung oleh Raja Salman di Istana Al-Salam Diwan Malaki, Jeddah, saat melakukan lawatan ke negara tersebut.
"Keduanya saling sapa, hangat dalam membangun komunikasi bersama. Ini sekaligus melihat kedua negara sebagai rekan ke depan," katanya.
Pintu Masuk
Sementara itu, Pengamat ekonomi Indef Bhima Yudhistira mengatakan, kunjungan Raja Salman kali ini juga bermakna sebagai upaya membuka peluang bagi kedua belah pihak dalam meningkatkan perekonomian kedua negara.
"Indonesia bagi Arab Saudi merupakan 'gateway' (pintu masuk) ke wilayah Timur, sementara Arab Saudi bagi Indonesia merupakan pintu masuk ke Timur Tengah," katanya.
Sejumlah nota kesepahaman yang telah ditandatangani kedua belah pihak, akan menguntungkan keduanya bila ditindaklanjuti.
Menilik rencana menawarkan lima persen saham (IPO) dari perusahaan BUMN Minyak Arab Saudi, ARAMCO, yang diperkirakan senilai 100 miliar dolar AS pada 2018, Indonesia memiliki peluang untuk mendapatkan kucuran dananya.
Untuk itu, kunjungan Raja Salman kali ini menjadi kesempatan bagi Indonesia mengingat kebutuhan Arab Saudi untuk menaruh dana investasi sangat besar, sesuai visi Arab Saudi 2030 yang tidak lagi bergantung pada pendapatan dari minyak.
Di sisi lain, menurut dia, Arab Saudi juga tidak bisa menafikan Indonesia, mengingat saat ini kondisi perekonomian di Eropa dan Amerika Serikat tengah lesu. Indonesia mampu menunjukan perekonomian yang masih menggeliat dengan pertumbuhan ekonomi lima persen, sementara pertumbuhan ekonomi dunia masih 3,1 persen.
"Kita punya hubungan yang cukup bagus, lima tahun terakhir intens, Indonesia dapat dijadikan 'gateway' di wilayah Timur, karena melihat AS, Eropa lesu," katanya.
Selain itu, kunjungan ini juga membuka peluang Indonesia untuk dapat lebih banyak mengekspor barangnya ke Arab Saudi. Apalagi mengingat jumlah jemaah haji dan umrah Indonesia yang besar dan terus meningkat dari tahun ke tahun.
"Selama ini kalkulasi kita sangat sederhana. Contohnya 200 ribu jamaah haji dan umrah setiap tahunnya, itu barang-barang yang digunakan justru dibuat dari China, kedua AS. Ini yang bisa dimanfaatkan, kalau bisa memang kita penetrasi ke Timur Tengah, kalau Arab Saudi kita pegang, negara-negara Timur Tengah lainnya akan mengikuti," katanya.
Ia menambahkan, visi 2030 Arab Saudi menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk dapat menggaet potensi negara tersebut dalam berinvestasi di berbagai bidang seperti infrastruktur, manufaktur maupun pariwisata. ***2***
Editor : Musriadi
COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2017