Israel kembali mendapat tuduhan serius terkait penindasan umat Kristen di Palestina, dengan Komite Gereja Palestina menegaskan bahwa klaim Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Majelis Umum PBB tentang perlindungan umat Kristen oleh Israel adalah kebohongan.
Dalam pernyataannya pada 29 September, Komite mengungkapkan bahwa serangan militer, perampasan tanah, serta kebijakan diskriminatif lainnya telah memaksa umat Kristen Palestina yang sebelumnya mencapai 12,5 persen dari populasi menjadi hanya sekitar 1 persen di wilayah yang diduduki Israel sejak 1967.
“Di aula PBB yang hampir kosong, penjahat perang dan buronan ICC Benjamin Netanyahu sekali lagi menyebarkan kebohongan tentang orang Kristen Palestina,” tegas Komite Presidensial Tinggi untuk Urusan Gereja di Palestina dikutip Anadolu, Senin.
Komite Gereja mengingatkan bahwa kemerosotan jumlah umat Kristen ini bukanlah kebetulan, melainkan dampak langsung dari kebijakan pembersihan etnis yang dilakukan oleh Israel. Pada masa Nakba 1948, lebih dari 90 ribu orang Kristen Palestina terpaksa meninggalkan rumah mereka, dengan sekitar 30 gereja ditutup dan puluhan orang terbunuh.
Selain itu, Komite menyoroti serangan brutal Israel terhadap gereja-gereja bersejarah di Gaza, seperti Gereja Ortodoks Yunani Saint Porphyrius dan Gereja Keluarga Kudus Katolik, yang menjadi sasaran bom meskipun penuh dengan warga sipil yang berlindung di dalamnya.
Baca juga: PBB sebut serangan udara Israel sasar Gaza tiap 8-9 menit
Baca juga: Pidato Prabowo di PBB dan role model diplomasi dunia
Rumah sakit dan pusat kebudayaan gereja juga ikut dihancurkan dalam serangan tersebut, dengan lebih dari 44 orang Kristen Palestina tewas akibat kekerasan tersebut.
Di Tepi Barat, desa-desa Kristen seperti Taybeh sering menjadi sasaran serangan oleh pemukim bersenjata. Gereja-gereja di wilayah ini menghadapi ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya, sementara kebijakan administratif yang diterapkan Israel semakin memperburuk keadaan dengan membekukan rekening gereja dan menyita lahan mereka.
Komite Gereja Palestina menegaskan bahwa kebenaran yang terjadi di lapangan tidak bisa disangkal meskipun Netanyahu menyebarkan kebohongan di forum internasional.
Mereka menekankan bahwa mempertahankan keberadaan umat Kristen di Palestina adalah masalah kemanusiaan, moral, dan hukum global. Keberadaan umat Kristen Palestina, yang telah memiliki akar sejarah di Tanah Suci sejak ribuan tahun, kini berada dalam ancaman serius.
Komite mendesak dunia internasional untuk mengambil tindakan dan memastikan umat Kristen Palestina tetap dapat hidup di tanah leluhur mereka tanpa tekanan yang semakin meningkat.
"Kebenaran tidak dapat disangkal, Israel telah melenyapkan keberadaan umat Kristen di Tanah Suci. Kebohongan Netanyahu tidak akan pernah bisa menghapus sejarah dan penderitaan nyata yang dialami warga Palestina, baik Kristen maupun Muslim," kata pernyataan tersebut.
Baca juga: Trump: Saya tidak akan izinkan Israel caplok Tepi Barat
Baca juga: Di tengah seruan perdamaian di PBB, Israel bunuh 85 warga Palestina tanpa ampun
Korban tewas Palestina capai 66.000, Mesir kirim bantuan ke Gaza
Editor : Anom Prihantoro
COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2025