Angkatan bersenjata Iran (IRGC) membantah melakukan serangan rudal atau drone terhadap Uni Emirat Arab (UAE) dalam beberapa hari terakhir, menurut laporan media pemerintah IRIB pada Selasa (5/5).

IRIB, mengutip pernyataan juru bicara Markas Besar IRGC Khatam al-Anbiya, mengatakan bahwa tidak ada operasi semacam itu yang dilakukan Teheran.

IRGC juga menolak tuduhan Kementerian Pertahanan UAE karena “tidak berdasar”.

Lebih lanjut, IRGC mengingatkan jika ada serangan terhadap Iran yang berasal dari wilayah UAE, maka Teheran akan merespons dengan pembalasan tegas.

IRGC menuding UAE mengizinkan pasukan AS dan Israel beroperasi dari wilayahnya, dan mendesak otoritas Emirat untuk tidak menjadi basis bagi apa yang ia sebut sebagai “kekuatan musuh”.

Peringatan IRGC disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan di Teluk, termasuk hari kedua berturut-turut dilaporkan adanya serangan yang menargetkan UAE.

Pihak berwenang di UEA mengatakan pertahanan udara mereka mencegat gelombang rudal, rudal jelajah, dan drone yang diluncurkan dari Iran, dengan serangan sebelumnya menyebabkan kebakaran besar di Zona Industri Minyak Fujairah.

Ketegangan di Timur Tengah meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan gabungan itu memicu balasan dari Teheran dan gangguan di Selat Hormuz.

Gencatan senjata mulai disepakati pada 8 April melalui mediasi Pakistan, tetapi pembicaraan selanjutnya di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan yang langgeng.

Gencatan senjata tersebut kemudian diperpanjang oleh Presiden AS Donald Trump tanpa batas waktu yang ditetapkan.

Sejak 13 April, AS memberlakukan blokade angkatan laut yang menargetkan lalu lintas maritim Iran di jalur perairan strategis tersebut.



Sumber: Anadolu

Pewarta: Yashinta Difa

Editor : Musriadi


COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2026