Universitas Bengkulu (Unib) dan Seameo Biotrop memperkuat kolaborasi pendidikan vokasi dan pengembangan pertanian berkelanjutan, salah satunya tentang isu pengelolaan lahan suboptimal.

"Universitas Bengkulu terus mendorong civitas academica agar tidak hanya menghasilkan ilmu pengetahuan di lingkungan kampus, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Karena itu, kegiatan yang menghubungkan dunia pendidikan, lembaga riset, dan pendidikan vokasi sangat sejalan dengan visi pengembangan Unib," kata Rektor Unib Indra Cahyadinata di Bengkulu, Rabu.

Menurut dia, isu pengelolaan lahan suboptimal bukan sekadar tantangan teknis, melainkan peluang besar yang harus dijawab melalui ilmu pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi lintas institusi.

Para guru SMK yang mengikuti pelatihan, dia mengharapkan, menjadi ujung tombak transformasi pengetahuan tersebut ke ruang-ruang kelas dan praktik pertanian di lapangan.

“Kami berharap kolaborasi antara Universitas Bengkulu dan Seameo Biotrop tidak berhenti sampai di sini, tetapi menjadi awal dari kemitraan yang panjang, produktif, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas,” katanya.

Kegiatan pendidikan vokasi tersebut berlangsung selama empat hari, menjadi upaya memperkuat sinergi pendidikan, riset, dan pengembangan pertanian berkelanjutan di Indonesia serta kawasan Asia Tenggara.

Pelatihan nasional diikuti sekitar 30 guru SMK dari Kota Bengkulu dan daerah sekitarnya. Para peserta memperoleh pembekalan dari akademisi dan peneliti yang berasal dari Seameo Biotrop, Universitas Bengkulu, PKR Karst Microbes–LPPM Universitas Hasanuddin, serta IPB.

Seminar regional juga diikuti sekitar 70 peserta yang berasal dari kalangan pendidik, peneliti, mahasiswa, pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat umum.

Direktur Seameo Biotrop Edi Santoso menjelaskan kegiatan tersebut bagian dari upaya memperluas penyebaran inovasi teknologi pertanian melalui dukungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi dan lembaga riset.

Pada 2025, sekitar 150 sekolah dan lebih dari 500 guru telah mengikuti program pelatihan nasional yang diselenggarakan lembaga tersebut.

Dia mengatakan pada 2026 program pelatihan ditargetkan menjangkau 15 provinsi dengan empat fokus utama, pengelolaan lahan suboptimal, ekonomi sirkular, smart carbon farming, dan geopark education model.

"Pelatihan nasional dan seminar regional ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat kolaborasi regional sekaligus meningkatkan peran guru SMK dalam pengelolaan dan pemanfaatan lahan suboptimal," ujarnya.

Pewarta: Boyke Ledy Watra

Editor : Musriadi


COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2026