Bupati Aceh Barat H Ramli MS mengatakan banyak hasil panen kelapa sawit di kabupaten setempat membusuk akibat minimnya pabrik CPO untuk pengolahan hasil kelapa sawit di kabupaten setempat.

Kalaupun ada, hanya satu perusahaan saja yang mampu mengolah kelapa sawit menjadi minyak dalam bentuk CPO (Crude Palm Oil).

"Saat ini ada 18.000 hektare lahan sawit milik masyarakat di Kabupaten Aceh Barat. Akan tetapi, setiap kali panen banyak petani yang rugi karena tidak bisa menjual hasil kebun mereka," katanya di Meulaboh, Sabtu.

Penyebab banyaknya hasil panen kelapa sawit membusuk, menurut dia  karena
sampai saat ini hanya ada satu pabrik pengolah CPO di Kabupaten Aceh Barat, sehingga tidak mampu menampung hasil panen petani dari kebun rakyat.

Kondisi ini terjadi karena masyarakat harus mengantre cukup lama di perusahaan-perusahaan swasta, sehingga membuat hasil membusuk dan tidak bisa lagi dijual karena sudah tidak sesuai dengan standar buah segar.

Karena itu agar persoalan ini tidak semakin berlarut, ia berharap pemerintah pusat atau Pemerintah Provinsi Aceh segera turun tangan untuk membangun pabrik CPO di Aceh Barat, dengan harapan dapat menampung hasil panen milik petani.

"Kalau pusat ataupun  provinsi tidak bisa membangun pabrik CPO, maka pemerintah daerah akan membangunnya sendiri," tambah Ramli MS.

Hal ini terpaksa dilakukan karena masyarakat yang memiliki kebun kelapa sawit tidak mungkin terus-menerus menanggung kerugian setiap kali panen, karena biaya yang harus dikeluarkan untuk merawat kebun tersebut tidak murah.

"Kami selalu berusaha agar masyarakat di Kabupaten Aceh Barat sejahtera dan ekonominya tumbuh," harapnya.

Pewarta: Teuku Dedi Iskandar

Editor : Helti Marini S


COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2019