Cahaya matahari berhasil menembus awan tebal di langit sekitar Gunung Andong pagi itu meskipun sejenak waktu, namun kabut masih membalut dusun setempat ketika sepasang pengantin dengan wajah masing-masing tampak serius duduk di hadapan penghulu.

Mereka yang keduanya warga Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah itu, mengikat kesepakatan suci untuk memulai hidup berkeluarga melalui ijab kabul, setelah selama dua tahun terakhir berpacaran.

Mempelai laki-laki bernama Gianto (25), sedangkan perempuan Komariyah (19). Mereka anggota seniman petani komunitas "Andong Jinawi", Dusun Mantran Wetan. Mereka sehari-hari bekerja sebagai petani aneka sayuran di kawasan gunung berudara sejuk itu.

Kelompok seniman petani Gunung Andong pimpinan Supadi Haryanto itu bagian dari Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) Kabupaten Magelang.

Baik Gianto maupun Komariyah sering ikut mementaskan kesenian dusun setempat di berbagai tempat dan kesempatan, khususnya memainkan sendratari, topeng ireng, dan kuda lumping.

"Sah?" tanya penghulu Sobirin dari Kantor Urusan Agama Kecamatan Ngablak yang memimpin ijab kabul pernikahan mereka itu.

Mereka yang hadir pada ijab kabul di rumah mempelai perempuan itu khususnya puluhan tetangga dan wali nikah, serempak menjawab, "Sah". Lalu semua yang hadir mengucapkan doa-doa secara islami.

Bulan Besar dalam kalender Jawa atau Zulhijah dalam kalender Hijriah sebagai saat yang baik bagi masyarakat Jawa untuk melangsungkan pernikahan. Sekitar dua atau tiga bulan lalu, kedua mempelai, Gianto dengan Komariyah, datang kepada seorang sesepuh, KH Khahir, di tetangga desa di Kecamatan Grabag, untuk menanyakan hari baik guna ijab kabul mereka.

Pasangan itu mendapatkan hari baik untuk pernikahan bertepatan dengan Rabu Kliwon (7/11) yang dalam perhitungan Jawa jumlah angkanya 15.

"'Tibane niku 'pendhito', niku dinten paling sae lan inggil kangge kekalihipun. (Jatuh ke 'pendeta'. Itu hari terbaik untuk pasangan tersebut, red.)'," kata Moch Roni (paman Gianto) yang mendampingi mempelai laki-laki di sela tradisi "panggih (pertemuan, red.) pengantin", setelah ijab kabul.

Tiga sebutan yang dipercaya masyarakat setempat terkait dengan hari baik untuk pernikahan berdasarkan perhitungan angka Jawa yakni "uwas", "untung", dan "pendhito". Jika jatuh "uwas", pasangan itu dipercaya akan sering cekcok, "untung" mendapat keberuntungan, "pendhito" memiliki keberuntungan dan sekaligus rumah tangganya hidup rukun, sejahtera, serta bermartabat.

Oleh karena anggota komunitas memiliki hajat menikah, maka para petinggi Komunitas Lima Gunung pun dengan tampak suka cita hadir pada rangkaian pesta pernikahan itu. Mereka antara lain Sutanto Mendut, Sumarno, Riyadi, Ismanto, Ari Kusuma, Dorothea Rosa Herliany, Andreas Darmanto, Pangadi, Irul, Arwanto, dan Kipli.

Pangadi dan Irul bahkan sejak Selasa (6/11) malam telah hadir dan menginap di rumah kakak sepupu mempelai laki-laki yang juga Ketua Komunitas Lima Gunung Supadi Haryanto untuk turut menyiapkan berbagai keperluan puncak pesta pernikahan tersebut.

"Pak Sitras (Sitras Anjilin, salah satu petinggi Komunitas Lima Gunung, red.) telah datang dua hari lalu," kata Supadi yang juga juragan sayuran di desa setempat.

Selain itu, sekitar 800 orang baik dari dusun setempat, desa tetangga, maupun kawan-kawan serta kerabat kedua mempelai hadir pada pesta pernikahan itu.

"Gianto dibantu warga, tiga hari lalu menyembelih seekor sapinya. Bagi warga kami, ukuran besar atau tidaknya pesta pernikahan di desa bisa diukur dari berapa banyak daging yang disiapkan, sedangkan yang lainnya seperti nasi, sayuran, dan suguhan lainnya akan 'mengikuti'.

Untuk saat ini termasuk golongan menengah, kira-kira disiapkan satu kuintal daging sapi. Ada juga daging ayam disiapkan, tetapi tak termasuk hitungan, kata Supadi.

    
                                           Panggih Pengantin
Sejumlah petinggi Komunitas Lima Gunung seperti Ismanto dan Pangadi bersama anggota komunitas "Andong Jinawi" mengemas tradisi "panggih pengantin" itu melalui prosesi yang dinamai "Manten Gunung".

Puluhan warga laki-laki mengenakan pakaian adat Jawa, antara lain beskap, "bebed", dan belangkon, mengiring perjalanan Gianto dari rumahnya menuju kediaman mempelai perempuan yang berjarak sekitar 100 meter.

Mereka membentangkan kain warna putih cukup panjang membentuk huruf "U", sedangkan Gianto yang dalam prosesi itu  mengenakan peci, jas hitam, berkalung rangkaian bunga melati, dan menyelipkan keris di depan dadanya, berjalan di tengah kain tersebut.

Sebelumnya, Moch Roni yang bertindak mewakili ayah Gianto, Paiman (almarhum) memeluk mempelai laki-laki itu dengan tampak hangat dan secara bergantian menginjakkan kaki kanannya ke kaki kanan dan kiri Gianto, sebagai simbol keselamatan. Rubi yang juga ibunda Gianto dengan raut muka tampak terharu, kemudian juga turut memeluk anak laki-laki semata wayangnya itu.

Masing-masing, dua orang membawa bambu mirip tombak, sedangkan lainnya menabuh bende dalam perjalanan tradisi "panggih pengantin". Supadi dan Ismanto, masing-masing berjalan di sisi kanan dan kiri mempelai laki-laki.

Pangadi menaburkan bunga mawar merah dan putih sepanjang prosesi dan seorang anggota "Andong Jinawi" bernama Eko Bintoro yang mengenakan pakaian ada Jawa sebagai "cucuk lampah", menari di sepanjang jalan yang mereka lalui.

Warga setempat berdiri di tepi kanan dan kiri jalan yang dilalui para peserta prosesi itu hingga di depan rumah mempelai perempuan. Mempelai perempuan diapit dua orang tuanya, Sumarlan dan Jiyah, menerima kehadiran rombongan mempelai laki-laki. Komariyah juga satu-satunya anak pasangan suami istri itu.

Aneka hidangan makanan pun kemudian disuguhkan secara "laladan" oleh pihak keluarga perempuan kepada semua orang yang hadir di tempat itu. Kedua mempelai duduk di pelaminan yang berhiaskan rangkaian janur dan bunga, serta taburan mawar di atas karpet warna merah.

Selanjutnya mereka menjalani acara seremonial yang antara lain diisi dengan pidato oleh sejumlah sesepuh setempat yang memberikan petuah tentang kebaikan hidup berumah tangga.

Kedua mempelai kemudian masuk ke rumah mempelai perempuan untuk berganti pakaian dengan menggunakan pakaian adat pengantin Jawa berwarna ungu.

Sekitar dua jam selepas tengah hari, mereka yang bagaikan raja dan ratu itu, di bawah payung warna pink berjalan dengan diiring warga perempuan, melanjutkan prosesi "ngunduh (boyongan, red.) pengantin" dari rumah mempelai perempuan ke kediaman laki-laki.

Pasangan "Raja Sehari" yang dipastikan hidup sehari-hari mereka berumah tangga selanjutnya tetap sebagai petani sayuran di dusun setempat itu kemudian duduk di pelaminan dengan latar belakang gebyok yang telah disiapkan di bawah tenda di halaman dengan rumah Gianto.

Kegembiraan atas pernikahan Gianto dengan Komariyah bakal dimeriahkan dengan pentas berbagai kesenian tradisional oleh seniman petani dusun itu pada Jumat (9/11), seperti sendratari "Manten Gunung", tarian kuda lumping, jaran kepang, dan topeng ireng.

"Pengin punya anak, cukup dua saja," kata Gianto seraya tampak tersipu, di sela prosesi "Manten Gunung" tersebut. (ANT)

Pewarta: M. Hari Atmoko

Editor : Helti Marini S


COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2012