Jakarta (ANTARA) - Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menilai pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah dapat dilakukan dengan pendekatan hybrid guna mengakomodasi perbedaan kondisi sekolah di berbagai daerah, sekaligus mencegah peristiwa keracunan terulang kembali.

"Ya jadi karena kan MBG itu terlaksana di sekolah ya. Tentu kita tahu ada kekuatan kelemahannya, metode yang sifatnya tersentral dengan yang berbasis sekolah. Nah mungkin nanti kita bisa menggunakan metode hybrid," kata Hetifah saat ditemui di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta, Senin.

Baca juga: Penutupan sementara SPPG bermasalah langkah tepat

Hetifah menjelaskan skema hybrid tersebut terbagi menjadi dua yakni terpusat di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di daerah padat penduduk serta sistem tersebar berbasis sekolah di daerah-daerah yang memiliki persebaran sekolah yang jauh.

"Bahkan banyak sekolah yang sudah memiliki dapur, sudah memiliki pengalaman baik. Nah mungkin bisa dilakukan itu melalui basis sekolah, dengan melibatkan tentu saja bukan hanya kantinnya, tapi juga pengawasan dari orang tua, keterlibatan dan partisipasi warga setempat," jelasnya.

Dalam sistem hibrid tersebut, Hetifah juga menekankan pentingnya penegakan standar operasional.

"Tetap dengan SOP dan harus ada prasyarat juga. Tentu sarana-prasarananya seperti dapur dan kantinnya juga harus memenuhi syarat, air bersih yang mengalir dan sebagainya," ucap Hetifah.

Baca juga: Pemuda Muhammadiyah apresiasi langkah Prabowo evaluasi program MBG

Meski begitu, Hetifah mengingatkan bahwa penerapan MBG berbasis sekolah tidak bisa digeneralisasi.

"Jadi jangan berasumsi atau take it for granted, seolah-olah MBG itu kalau sekarang langsung diberikan ke sekolah pasti langsung lebih baik kalau tidak ada sentuhan," tutur Hetifah Sjaifudian.

Terkait hal tersebut, sebelumnya Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan menekankan pemerintah mengevaluasi para juru masak di seluruh SPPG terkait dengan kedisiplinan, kualitas, dan kemampuan memasak, usai munculnya kasus keracunan MBG.

"Salah satu evaluasi yang utama adalah mengenai kedisiplinan, kualitas, kemampuan juru masak tidak hanya di tempat terjadi (keracunan), tetapi juga di seluruh SPPG," ucap Zulkifli Hasan (28/9).



Pewarta: Sean Filo Muhamad
Uploader : Musriadi

COPYRIGHT © ANTARA 2026