Bengkulu (ANTARA) - Di balik prosesi pernikahan adat Suku Serawai di Kabupaten Bengkulu Selatan, terdapat satu tahapan penting yang sarat makna, yakni Mengantek Piti (Serawai: mengantar uang/ seserahan). Tradisi ini merupakan prosesi pengantaran uang hantaran dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan sebagai bentuk kesepakatan adat sebelum menuju akad nikah.
Mengantek Piti bukan sekadar serah terima materi, melainkan ruang dialog dan negosiasi adat antara dua keluarga besar. Di dalamnya tersimpan nilai komunikasi, penghormatan, serta upaya menyatukan perbedaan latar belakang budaya, terutama ketika kedua belah pihak berasal dari suku yang berbeda.
Kepala Program Magister Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Bengkulu, Dhanurseto Hadiprashada, di Bengkulu, baru-baru ini mengatakan tradisi Mengantek Piti dihidupkan melalui praktik mata kuliah Komunikasi Antar Budaya sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual.
“Kami dari program tentu sangat mendukung praktik kebudayaan seperti ini dan siap memfasilitasi seluruh kegiatan positif mahasiswa,” kata Dhanurseto.
Dalam prosesi Mengantek Piti, peran tokoh adat menjadi sangat sentral. Ketua adat dari kedua belah pihak memimpin jalannya pertemuan, menyampaikan maksud kedatangan rombongan, serta menjadi juru bicara dalam perundingan. Bahasa yang digunakan disampaikan dengan penuh kehati-hatian, mengedepankan etika, sopan santun, dan simbol-simbol budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Baca juga: Profesor UNIB identifikasi 19 kearifan lokal adaptasi perubahan iklim
Baca juga: Seluma gelar Festival Bumi Serawai Serasan Seijoan
Rangkaian prosesi biasanya diawali dengan kedatangan rombongan pihak laki-laki yang membawa hantaran. Selanjutnya, dialog adat berlangsung untuk membahas kesepakatan, mulai dari nilai hantaran hingga tata cara lanjutan menuju pernikahan. Setiap pernyataan memiliki makna, sehingga perbedaan kebiasaan dan cara pandang dikelola secara bijak agar tercapai mufakat.
Pewarta: Vonza Nabilla SuryawanEditor : Anom Prihantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026