Tetapi, di balik seluruh mekanisme pesimis itu, ada sesuatu yang jauh lebih kuat: dialah iman. Yang mampu menggerakkan hati seseorang untuk melangkah dalam antrean, semustahil apapun cara pergi ke tanah suci.

Mungkin karena itulah, meski waktu tunggu terasa panjang dan kadang melelahkan, banyak orang tetap bertahan dalam ketabahan yang sangat sabar. Mereka tahu panggilan haji bukan seperti membeli tiket perjalanan biasa.

Tidak semua hal bisa dipercepat hanya dengan uang atau keinginan kuat. Ada orang yang mampu tetapi belum dipanggil. Ada yang secara hitungan manusia tampak mustahil berangkat, tetapi akhirnya sampai juga.

Di banyak pengajian di masjid-masjid kampung, kalimat seperti itu sering terdengar. Kadang terdengar klise. Tetapi semakin dipikirkan, semakin terasa bahwa penantian haji memang membentuk cara orang menyikapi hidup. Ia mengajarkan bahwa ada hal yang belum tuntas ditunaikan, maka masih banyak yang harus diperjuangkan.

Baca juga: Tiga WNI ditangkap terkait dugaan penipuan haji, Polri koordinasi dengan polisi Arab Saudi

Baca juga: Gubernur Bengkulu titip doa dan minta jamaah calon haji fokus ibadah


Mungkin itu sebabnya banyak calon peserta haji tetap menjaga nomor porsinya seperti menjaga doa yang belum selesai diaminkan.

Mereka menunggu sambil hidup seperti biasa. Membuka warung di pagi hari. Pergi ke sawah. Menghadiri pengajian malam Jumat.

Sesekali mengecek tahun keberangkatan, lalu kembali bersabar sambil terdengar gumaman kecil di dalam hati, "Oh, masih lama."

Justru pada iman itulah diletakkan kesabaran dan kerinduan secara bersamaan. Dirawat sebaik-baiknya, sampai entah apa yang akan datang lebih dulu: panggilan Allah ke tanah suci, atau panggilan Allah pada jiwa-jiwa yang tenang.

"Kembalilah pada Tuhanmu dengan rida dan diridai."



Pewarta: Aditya Ramadhan
Uploader : Musriadi

COPYRIGHT © ANTARA 2026