Penjualan gula aren di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, masih stabil meskipun ada wabah Virus Corona baru atau COVID-19 di wilayah itu.

Ketua Kelompok Tani (Koptan) Sari Aren Desa Air Meles Atas, Kecamatan Selupu Rejang, Suparman saat ditemui, Senin, mengatakan saat ini produksi gula aren yang berasal dari wilayah itu setiap harinya mencapai 5 ton dengan lokasi pemasaran dalam wilayah Provinsi Bengkulu, serta kota dan kabupaten di Sumatera Selatan.

"Saat ini penjualan gula aren atau gula batok masih stabil dengan harga jual ditingkat petani Rp15.000 hingga Rp16.000 per kg," kata dia.

Gula aren yang dihasilkan petani di desa setempat, tambah dia, setiap hari dijual kepada pedagang pengepul yang ada di Desa Air Meles Atas maupun pengepul dari luar desa yang selama ini sudah menjadi langganan mereka.

Gula aren yang dihasilkan petani Desa Air Meles ini, selain dijadikan gula semut dan sebagian lagi dijual kepada pengusaha kue serta untuk bahan pembuatan kuah (cuko) makanan khas Palembang yakni empek-empek dan masyarakat umum lainnya.

Sementara itu, Rahman Kepala Dusun VI Desa Air Meles Atas menyebutkan jika di desa itu terdapat ratusan perajin gula aren, di mana mereka memanfaatkan air nira yang disadap dari tanaman aren yang banyak tumbuh di kebun-kebun warga.

"Tanaman aren ini banyak sekali manfaatnya, mulai dari air niranya untuk dijadikan gula batok, ijuk, pohon hingga lidinya. Di sini ada ratusan hektare kebun aren yang ditanam di sela-sela tanaman kopi dan juga untuk pembatas lahan," ujar dia.

Produksi gula batok atau gula aren yang dihasilkan dari wilayah itu setiap harinya, kata Rohman, bisa mencapai dua ton, di mana pengolahan gula aren ini memakan waktu hingga 10 jam sehingga biasanya pada sore hari hasilnya langsung dijual perajin atau petani aren kepada pengepul yang ada di desa itu.

Pewarta: Nur Muhamad

Editor : Helti Marini S


COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2020