Video kover itu menampilkan gambaran sederhana dari seorang penerima manfaat program pelatihan Kartu Prakerja. Duduk seorang Omi Saomi dengan latar belakang hitam menyanyikan "Wajah Kekasih", lagu yang tenar dinyanyikan oleh biduan asal Malaysia Siti Nurhaliza.

Seperti video kover lagu lain yang bisa ditemukan di YouTube, Omi menonjolkan suaranya untuk meraih penonton atau viewer di situs video tersebut.

Namun berbeda dengan video-video sebelumnya di akun itu, dia sudah memaksimalkan penggunaan optimalisasi mesin pencari atau search engine optimization (SEO) yang dipelajarinya lewat pelatihan Kartu Prakerja. Omi adalah salah satu dari 16,45 juta orang yang sudah menerima manfaat pelatihan Kartu Prakerja, menurut data Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja sampai dengan November 2022.

"Awalnya saya mau ikut karena ada pelatihan, kebetulan saya memperdalam dan nyoba dunia YouTube. Jadi saya cari pelatihan content creator YouTube," ujar Omi ketika ditemui ANTARA di acara Kartu Prakerja di Bali.

Seorang pejuang, meski menjadi penyandang disabilitas fisik, ia tidak pernah berhenti berusaha ketika menjalani sesuatu. Baik ketika membangun usaha digital printing sejak 2017 maupun ketika ingin menjadi penerima manfaat Kartu Prakerja.

Mendaftar sejak pembukaan Gelombang 20 pada September 2021, ia baru diterima menjadi peserta Gelombang 33 pada 2022. Ia mengaku mengikuti setiap gelombang sampai akhirnya diterima.

Secara jujur dia mengakui bahwa mengikuti Kartu Prakerja tidak hanya untuk pelatihan, tapi juga insentif yang akan digunakannya demi meningkatkan performa komputer yang digunakan untuk bisnis percetakan digital dan menyunting video untuk diunggah di dunia maya.

Bisnis itu sudah dirintisnya sejak 2017, ketika warga Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, itu memutuskan untuk menyewa ruko di pinggir jalan. Dia bekerja seorang diri untuk usahanya memberikan layanan membuat dan mencetak foto, poster, serta spanduk.

Setelah bisnis sempat menurun pada pertengahan 2019, ia akhirnya memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak toko dan melanjutkan usahanya di rumah.

Di saat itulah laki-laki berusia 31 tahun itu memutuskan untuk mulai mengembangkan konten videonya. Dengan teknik yang dipelajari dari pelatihan Kartu Prakerja, ia merasakan dampak nyata, seperti peningkatan jumlah penonton yang melihat kontennya.

"Gede, lumayan dampaknya. Bahkan teman saya yang baru lihat, bilang ada view yang sudah sampai 6 ribu, bahkan yang sudah di-upload beberapa bulan," ujarnya.

Tapi dia masih menghadapi masalah penambahan subscriber di akunnya, mengaku masih belum konsisten mengeluarkan konten untuk menjaga pertambahan penonton.

"Kembali lagi sebenarnya, yang tentuin hasilnya tetap kita," kata Omi.

Hasil ditentukan oleh diri sendiri tampaknya menjadi salah satu kalimat yang sering menghiasi hidupnya. Semua yang dia capai sampai saat ini bisa dikontribusikan sebagian besar karena usaha sendiri.

Dia mengaku berhenti bersekolah formal sampai dengan tingkat kelas 5 SD, karena menghadapi berbagai reaksi dari teman-temannya akibat kondisi fisiknya.

Kekuatan mentalnya waktu itu tidak cukup menopangnya untuk bertahan dan melanjutkan sekolah.

Meski demikian ia tidak memutuskan hanya duduk di rumah. Pada akhir 2012, seorang teman mengajaknya bekerja di sebuah perusahaan digital printing di Bandung sebagai karyawan yang bisa menginap menjaga toko.

Bekerja sampai dengan 2015, di perusahaan itu Omi mempelajari teknik menyunting foto dan gambar serta kebutuhan desain grafis lain.

Berlatar belakang autodidak, setelah perusahaan itu gulung tikar, ia akhirnya memberanikan diri untuk membangun usaha percetakan digital sendiri pada 2017 yang bertahan hingga sekarang.

Meski mengaku pendapatan berkurang setelah memindahkan usahanya ke rumah, dengan kebanyakan pesanan datang dari pelanggan yang sudah lama mengenal jasanya, ia tetap mampu menghasilkan pendapatan untuk menopang hidupnya.

Telan menerima manfaat dari Kartu Prakerja, baik berupa pelatihan maupun insentif, dia mengapresiasi program yang menyasar peningkatan kompetensi pekerja Indonesia itu.

Manfaat itu, terutama untuk penyandang disabilitas fisik, seperti dirinya. Pendaftaran dan pelatihan Kartu Prakerja yang dilakukan penuh secara daring dianggapnya menjadi salah satu faktor plus dari program itu.

"Kalo bantuan yang lain, misalnya kita harus ke kecamatan atau sejenisnya buat daftar, kalo ini tinggal di HP saja. Kalau saya sendiri kan susah bawah motor sendiri, makanya pas tahu bisa daftar online itu paling berasa kemudahannya," katanya.

Dia berharap program itu akan terus berlanjut untuk membantu memberikan pelatihan bagi pekerja Indonesia, termasuk penyandang disabilitas, demi memberikan pilihan bagi mereka untuk mengembangkan diri.

Adanya pilihan dan ditambah dengan tekad diri masing-masing individu akan membantu penyandang disabilitas meningkatkan kompetensi diri mereka.

 

Program inklusif

Kartu Prakerja ikut berperan dalam menciptakan pasar kerja yang inklusif di Indonesia. Terbukti dari kepesertaan yang menjangkau penyandang disabilitas.

Menurut data survei Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja, dalam periode 2020-2022 terdapat 330 ribu penerima manfaat Kartu Prakerja yang merupakan penyandang disabilitas.

Jumlah itu memperlihatkan persentase 3 persen dari total penerima manfaat.

Mayoritas penyandang disabilitas penerima manfaat Kartu Prakerja masuk dalam usia produktif 26-35 tahun, yaitu 35 persen dari total penerima dengan disabilitas.

Sebanyak 58 persen dari penerima dengan disabilitas tidak pernah mengikuti pelatihan, 43 persen tinggal di desa, 48 persen tinggal di kabupaten miskin ekstrem dan 42 persen adalah perempuan.

Sebanyak 47 persen adalah tunadaksa dengan keterbatasan fisik, 13 persen adalah tunarungu dan 40 persen disabilitas lainnya.

Mayoritas dari mereka mengaku proses pendaftaran Kartu Prakerja mudah dan memiliki learning management system yang mudah diakses.

Kartu Prakerja juga membantu inklusi keuangan penyandang disabilitas yang menjadi peserta program tersebut lewat rekening bank atau dompet digital (e-wallet).

Dari 21 persen penyandang disabilitas yang tidak memiliki rekening bank dan e-wallet sebelum Kartu Prakerja, kini 78 persen sudah memanfaatkan dompet digital dan 22 persen memiliki rekening bank.

Peran inklusi keuangan oleh Kartu Prakerja untuk mereka yang rentan juga diapresiasi oleh Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Inklusi Keuangan, Ratu Belanda Maxima Zorreguieta Cerruti.

Dalam Forum B20 di Bali pada 14 November lalu, ia menyebut pembayaran digital menjadi krusial dalam memberikan bantuan selama pandemi COVID-19.

"Langkah ini membuat masyarakat rentan memiliki akses ke layanan keuangan, sehingga mendorong inklusif finansial untuk seluruh lapisan masyarakat," kata Ratu Maxima.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam kesempatan yang sama juga menyoroti peran penting Kartu Prakerja sebagai program dengan pendekatan inklusif untuk reskill, upskill dan meningkatkan literasi digital.

Di saat bersamaan program itu juga mampu meningkatkan inklusi keuangan.

Dengan berbagai manfaat itu, maka pekerja Indonesia dapat beradaptasi dengan dunia kerja dan menciptakan peluang baru mereka yang masuk kelompok rentan, terkena dampak disrupsi teknologi dan pandemi.

 



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Keterbatasan fisik tak halangi Omi kembangkan diri melalui Prakerja

Pewarta: Prisca Triferna Violleta

Editor : Musriadi


COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2022