Sebagian besar pehobi memancing ikan mas menyebut salah satu makluk air bersisik ini dengan "nyimas", entah siapa yang memulai dan kapan istilah itu digunakan.

Sejumlah pehobi memancing ikan mas mengatakan ada keasyikan tersendiri dalam menaklukkan "nyimas" karena beda dengan jenis ikan air tawar lain dalam hal memakan umpan.

"Kami harus lebih waspada mengamati pelampung karena ikan mas menyedot umpan sehingga kalau telat menyentak joran bisa saja umpan habis dan kail dimuntahkan," kata Rohimin (43), warga Kota Bengkulu.

Selain itu, lanjut dia, piranti memancing juga agak berbeda dengan peralatan untuk memancing ikan lele karena tali atau senar yang dibutuhkan lebih halus namun memiliki kekuatan.

Ia mengatakan kalau senar pancing agak besar bisa membayang, ikan takut dan berenang menjauh manakala umpan dilemparkan di dekatnya.

"Memang sih, kebiasaan pemancing itu berbeda-beda dalam merakit pancingnya dari jenis joran hingga mata kail. Tetapi, umumnya mereka melihat kondisi ikan dan air kolam dan memilih senar yang halus namun kuat," kata dia.

Rohimin menjelaskan selain yang telah disebutkan yang utama adalah umpan sebab ada istilah kalau umpan masuk, isi kolam tersebut bisa terangkat semua.

"Kalau umpan masuk, pemancing lain hanya sebagai penonton karena ikan akan menyukai dan memakan umpan kita saja," ujarnya.

Namun, lanjut dia yang hobi memancing sejak di bangku SMP itu, hari ini umpan jenis tersebut bisa masuk tetapi besok belum tentu.

"Banyak faktor yang mempengaruhi kenapa umpan hari ini masuk, tetapi besok dengan jenis dan takaran yang sama tidak dimakan ikan. Bisa saja suhu air, jenis atau asal ikan dan lainnya," terang dia.

Soal suhu air, lanjutnya, bisa dilihat atau direka apakah ada hujan, kemudian jenis atau asal ikan pun harus diperhatikan untuk menyiapkan umpan yang pas.

"Soal umpan. Pepatah `lain padang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya`, bisa berlaku untuk menaklukkan si nyimas," kata dia.

Ikan mas di Bengkulu sulit bahkan tidak memakan umpan instan yang berasal dari Bandung dan banyak dijual di toko-toko penjual perlengkapan memancing.

"Ada pemancing berasal dari Jawa Barat. Ia menggunakan umpan putih yang biasa digunakan di sana. Tetapi, tidak satu ekor pun ia dapat di sini," katanya.

Padahal, lanjut Min, sapaan dia, umpan yang digunakan pemancing tersebut kalau di daerahnya cukup mumpuni dan berhasil menaklukkan ikan mas di beragam kolam.

Pengakuan pemancing asal Jawa Barat tersebut, lanjut Min, untuk membuat umpan itu mengeluarkan biaya cukup banyak karena menggunakan beragam bahan seperti ikan tuna, telur, keju, ikan salmon, kroto dan lainnya.

Kemudian membuatnya pun diblender dan dikukus atau direbus guna mematangkan bahan-bahan tersebut.

"Sementara kalau kami di Kota Bengkulu hanya menggunakan beberapa genggam pellet ikan dimasukkan plastik transparan ukuran setengah kilogram ditambah beberapa tetes essen sesuai keinginan, kemudian dimasukkan air panas. Ujung plastik diikat. Kemudian setelah mekar baru dipencet-pencet supaya hancur dan halus. Langsung digunakan, dengan merobek bagian ujung plastik dan diambil sesuai kebutuhan untuk ditempel di kail," katanya.

Menyinggung kenapa umpan siap pakai dari Jawa Barat yang banyak dijual itu kurang disukai ikan, ia menerka kemungkinan lain karena kondisi air kolam di Kota Bengkulu berbeda dengan kolam di tempat lain khususnya di Jawa.

"Kolam di sana mungkin sirkulasi airnya bagus. Atau minimal ada blower di tengah sehingga air seperti berganti terus. Kalau di sini tidak. Air berasal dari mata air dan tercampur air hujan, atau dengan kata lain airnya itu saja," katanya.

Apa yang diterangkan Rohimin tersebut untuk di kolam pemancingan harian atau dengan sistem pemancing datang kemudian ikan dilepaskan. Beda dengan pemancingan galatama yang kondisi airnya dijaga.

Dia menjelaskan di Kota Bengkulu mayoritas pemancing harian menggunakan pellet merek "S" dan ditambah dengan beberapa essen beraroma amis atau wangi. Juga ada yang menggunakan oplosan yang diracik sendiri atau dibeli terutama dari Jawa setelah melihat di internet. 

Ada pula yang menambahkan kroto, namun hal itu akan sedikit percuma karena hampir pemancingan ikan mas sistem harian di Kota Bengkulu terdapat pengganggu yakni ikan-ikan kecil seperti ikan sepat, ikan nila dan ikan cenang (perut buncit) yang senang dengan telur semut rangrang tersebut.

"Kalau saya sering melihat tidak ada pemancing di kolam harian yang benar-benar menguasai setiap saat ia mancing. Bisa hari ini berhasil dengan jumlah ikan banyak, besoknya `mbalon` atau tidak dapat sama sekali," katanya.

Hal tersebut, ujar dia, selain tergantung jenis umpan, juga rezekinya saat itu sebab ada pemancing pemula yang cara melemparkan umpan di kail ke kolam pun tidak semahir pemancing "profesional", bahkan umpannya hanya pellet atau menggunakan cacing, tetapi mampu mendapatkan ikan.

"Jadi bagi saya, tidak ada seorang pemancing yang hebat dalam meracik umpan. Apalagi mancing di kolam harian di Bengkulu, karena pemancing sering pindah-pindah sehingga umpan pemancing yang mendatangi ikan, bukan ikan yang mengejar umpannya," kata dia. 

***3***

Pewarta: Oleh Triono Subagyo

Editor : Musriadi


COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2014