Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Fatmawati Soekarno Bengkulu memprakirakan potensi angin kencang di wilayahnya beberapa hari ke depan mencapai 34 knots.
 
"Untuk potensi angin kencang satu pekan ke depan kecepatannya mencapai 34 knot yang biasanya kondisi normal kecepatan angin di Bengkulu berkisar antara lima hingga 20 knots," kata Prakirawan BMKG Stasiun Fatmawati Soekarno Bengkulu Winda Ayu Kusumawati di Kota Bengkulu, Rabu.

Baca juga: Sejarah penting! Penjajah Belanda yang kuras emas di Lebong, Bengkulu, sampai nyaris habis
 
Ia menyebutkan kondisi angin kencang tersebut disebabkan belokan angin di wilayah Sumatera khususnya di Provinsi Bengkulu dengan kondisi cuaca cerah hingga cerah berawan.
 
Selain angin kencang, pada akhir September akan terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang berada di Kabupaten Bengkulu Selatan, Kabupaten Kaur, Kabupaten Seluma dan Kabupaten Mukomuko.
 
Kemudian, ketinggian gelombang di wilayah Perairan Enggano hingga Samudera Hindia berkisar dari 2,5 meter hingga tiga meter.
 
"Meskipun demikian, masyarakat diimbau untuk tetap waspada khususnya nelayan, sebab ketinggian gelombang disertai angin kencang sehingga diprediksi bisa mencapai 3,5 hingga empat meter," ujar dia.
 
Oleh karena itu, ia meminta agar masyarakat untuk terus memonitor informasi terkait kondisi cuaca terkini guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Baca juga: 11.769 warga Bengkulu terjangkit ISPA Januari-Agustus

Dia juga mengingatkan pengunjung di kawasan pantai untuk tidak bermain air apalagi mandi serta mengikuti instruksi dari tim yang ada di lapangan.
 
Sementara itu, Kasi Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Pulau Baai Bengkulu Anang Anwar menjelaskan terjadi perubahan suhu pada malam hari disebabkan radiasi panas yang terjadi selama siang hari.
 
Kemudian akan kembali dipancarkan ke atmosfer pada saat matahari terbenam, melalui radiasi tersebut menyebabkan pendinginan dan suhu udara mulai turun.
 
"Perubahan suhu di malam hari disebabkan  beberapa faktor, salah satunya karena adanya radiasi panas yang terjadi selama siang hari," ujarnya.
 
Anang menjelaskan, selama terjadinya penurunan suhu udara di malam hari menyebabkan udara yang kontak langsung dengan tanah mendingin sehingga udara di permukaan ikut lebih dingin.*

Pewarta: Anggi Mayasari

Editor : Musriadi


COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2023