Bengkulu (Antara) - Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Penangkulan Kabupaten Kaur, Bengkulu mengeksplorasi potensi ekowisata di Hutan Lindung Raja Mandara, salah satunya Air Terjun Cawang Keruh setinggi lebih 100 meter.

"Air terjun Cawang Keruh memiliki dua tingkat dan masih asli atau belum banyak yang mengetahui keindahan alamnya," kata Koordinator Pokdarwis Desa Penangkulan, Nopri Anto di Bengkulu, Jumat.

Ia mengatakan eksplorasi potensi ekowisata Hutan Lindung (HL) Raja Mandara digelar bersamaan dengan ekspedisi flora kawasan Gunung Patah di dalam HL itu.

Lokasi air terjun cukup jauh di dalam hutan dan anggota kelompok sudah membuat jalan setapak untuk menuju air terjun itu.

"Belum ada jalur resmi menuju lokasi tapi masyarakat lokal cukup sering masuk hutan untuk mengambil hasil hutan," ucapnya.

Noprianto mengatakan kawasan HL Raja Mandara yang berada di perbatasan Provinsi Bengkulu dengan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) juga menjadi salah satu habitat bunga Rafflesia arnoldii dan Rafflesia bengkuluensis.

Anggota Pokdarwis desa tersebut sudah memetakan lokasi habitat bunga langka itu dan menjadi salah satu objek ekowisata yang ditawarkan.

Berdasarkan data Komunitas Pemuda Padang Guci Peduli Puspa Langka (KPPGPPL), Kabupaten Kaur, kurun waktu 2014 hingga 2015 sebanyak 35 kuntum bunga rafflesia mekar ditemukan di kawasan hutan itu.

"Habitat bunga rafflesia juga menjadi salah satu objek ekowisata andalan kami karena wilayah Kaur dikenal sebagai lokasi identifikasi Rafflesia bengkuluensis," ucapnya.

Bunga Rafflesia arnoldii merupakan jenis rafflesia yang paling terkenal dan terbesar dengan diameter sekira 70 hingga 110 centimeter.

Sedangkan Rafflesia bengkuluensis merupakan jenis terbaru yang dideskripsikan oleh Dosen Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu, Agus Susatya bersama dua rekannya dari Malaysia, Arianto, et Mat-Salleh di Desa Talang Tais, Kabupaten Kaur pada 2005.***1***

Pewarta:

Editor : Musriadi


COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2016