Fenomena yang selama ini kerap menjadi bahan olok-olok di media sosial, yakni Resting Bitch Face (RBF) atau secara bebas diterjemahkan sebagai “wajah jalang saat beristirahat”, ternyata bukan sekadar gurauan. 

CNN melaporkan, menurut hasil penelitian ilmiah, ekspresi wajah yang tampak sinis atau tidak ramah ketika dalam kondisi diam itu memang nyata, dan bahkan bisa dijelaskan secara neurologis dan perilaku. Lebih dari sekadar persepsi subjektif, RBF telah dibuktikan melalui perangkat lunak analisis wajah yang dikembangkan oleh perusahaan teknologi perilaku, Noldus Information Technology. 

Dalam riset yang dilakukan pada Oktober 2015, dua ilmuwan perilaku, Abbe Macbeth dan Jason Rogers, menggunakan perangkat lunak FaceReader. Untuk mengamati raut wajah sejumlah tokoh publik yang terkenal sering tampil dengan ekspresi dingin atau serius.

Beberapa nama selebritas yang dianalisis dalam penelitian ini antara lain Kanye West, Kristen Stewart, Anna Kendrick, hingga Ratu Elizabeth II tokoh-tokoh yang acap kali dianggap memiliki ekspresi wajah yang tidak bersahabat. 

Penelitian ini mencoba mencari tahu, apakah kesan "jutek" itu hanyalah opini publik, atau memang ada emosi tertentu yang tersembunyi di balik ekspresi mereka. Proses analisis dimulai dengan memilih foto wajah seseorang dalam keadaan netral yakni tidak sedang tersenyum atau menunjukkan ekspresi mencolok lalu memprosesnya melalui FaceReader. 

Baca juga: Tiap hari senyum di kantor? Hati-hati, itu bisa bikin kamu depresi!
Baca juga: Girlband cilik Kazumi siap rilis single "Senyum Indonesia" di Hari Sumpah Pemuda

Perangkat lunak ini kemudian mengidentifikasi proporsi emosi yang tersembunyi di balik ekspresi tersebut. Secara rata-rata, wajah netral memiliki tingkat netralitas sekitar 97 persen. Namun sekitar 3 persen sisanya mencerminkan emosi mikro seperti kesedihan, kemarahan, atau bahkan kebahagiaan. Bagi individu dengan RBF, angka ini meningkat hampir dua kali lipat.

“Kami menemukan bahwa mereka yang dianggap memiliki RBF menunjukkan ekspresi emosional tersembunyi hingga 6 persen,” jelas Macbeth.


“Dan sebagian besar emosi yang terdeteksi adalah disgust atau penghinaan—sebuah ekspresi yang mengisyaratkan bahwa sesuatu tidak layak atau menjijikkan.”

Ciri-ciri mikroekspresi yang dibaca sebagai “penghinaan” bisa muncul dari hal-hal kecil, seperti sudut bibir yang sedikit ditarik ke bawah, atau mata yang menyipit dengan cara tertentu. Halus, tapi terbaca oleh algoritma.

Sebaliknya, beberapa tokoh seperti Jennifer Aniston dan Blake Lively, meskipun secara teknis memiliki wajah netral, ditafsirkan oleh perangkat lunak sebagai wajah yang menampilkan emosi positif. Ini menunjukkan bahwa bentuk dan posisi fitur wajah memang sangat memengaruhi persepsi terhadap ekspresi.

 

Apakah Punya RBF Artinya Anda Marah Terus? 

Menurut Macbeth, ekspresi wajah tidak selalu sejalan dengan kondisi emosional internal seseorang.Yang menarik, persepsi terhadap RBF juga dipengaruhi oleh budaya dan gender. Dalam masyarakat tertentu, terutama di Eropa Timur, ekspresi datar dianggap wajar dan tidak mencerminkan sikap negatif. 

Namun di banyak tempat, terutama di budaya Barat, wajah datar sering dikaitkan dengan ketidaksenangan atau sikap tidak ramah. Lebih jauh lagi, perempuan cenderung lebih sering dinilai memiliki RBF dibanding laki-laki.

Macbeth dan Rogers, yang keduanya merupakan ahli di bidang neurosains perilaku, tidak hanya ingin mengidentifikasi siapa yang memiliki RBF, tetapi juga menelusuri penyebabnya. 

Baca juga: Gejala depresi remaja bukan hanya perasaan sedih
Baca juga: Viral di media sosial: Kisah jersey Marselono yang direbut berakhir bahagia bagi Kenneth

Mengapa sebagian orang menunjukkan ekspresi seperti itu saat diam? Dan mengapa orang lain meresponsnya secara negatif?

“Kita semua pernah mendengar komentar seperti ‘kamu harus lebih sering tersenyum’. Tapi bisa jadi, saat seseorang merasa biasa saja, wajah mereka justru dipersepsikan sebagai kesal,” katanya.


Fenomena RBF pertama kali mencuat ke publik saat sebuah meme viral menyebar di internet pada 2013. 

Kemudian muncul parodi layanan publik (PSA) tentang Bitchy Resting Face yang semakin menegaskan istilah ini dalam budaya pop. Namun belakangan, lelucon ini berubah menjadi topik serius dalam dunia psikologi dan neurosains.

Menurut David B. Givens, Direktur Pusat Studi Nonverbal di Spokane, Washington, RBF bukanlah mitos. 

Ia menyebutnya sebagai “wajah kosong” dan dalam penelitiannya, wajah tanpa ekspresi sering kali dinilai tidak ramah oleh para responden. 

Dr. Anthony S. Youn, seorang ahli bedah plastik di Detroit, bahkan mengaku dirinya memiliki RBF. Ia menjelaskan bahwa faktor fisik seperti gravitasi dan genetik bisa menyebabkan struktur wajah terlihat cemberut secara permanen.

“Gravitasi dan gen bisa menarik sudut mulut ke bawah. Seiring bertambahnya usia, kulit menjadi lebih longgar dan membuat kita tampak cemberut,” jelas Youn.

Baca juga: Libur sekolah untuk mengisolasi diri, bukan piknik

Youn menyarankan, tak ada salahnya untuk mencoba tersenyum jika ingin terlihat lebih hangat. Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan bahwa senyuman meskipun dibuat secara sadar dapat memengaruhi suasana hati seseorang menjadi lebih positif.

Namun senyuman bukanlah solusi wajib, apalagi jika tujuannya hanya untuk memenuhi ekspektasi sosial. Yang lebih penting adalah kesadaran dan pemahaman akan bagaimana wajah kita dipersepsikan oleh orang lain.


Apakah Kamu Punya RBF?

Sejak publik mengetahui bahwa wajah mereka bisa dianalisis dengan FaceReader, Noldus menerima lebih dari 150 foto dari individu yang penasaran apakah mereka termasuk pemilik RBF. 

Menurut Macbeth, minat masyarakat sangat besar untuk mengetahui lebih jauh tentang ekspresi mereka sendiri.

Cara lain yang bisa digunakan untuk memprediksi apakah seseorang memiliki RBF, menurut Youn, adalah dengan melihat warisan genetik. Pada akhirnya, memiliki RBF bukanlah masalah medis ataupun sosial. Ia hanyalah ekspresi wajah yang kadang disalahartikan oleh orang lain. 

Pemahaman terhadap fenomena ini bisa membantu mengurangi prasangka, membuka ruang dialog, dan mengingatkan kita bahwa tidak semua wajah datar berarti marah, sinis, atau tidak bersahabat.

Baca juga: Brigitte dorong wajah Macron seperti "ditampar" di tangga pesawat, cuma bercanda katanya
Baca juga: G-Dragon konser di Indonesia 26 Juli 2025

Harbin jadi destinasi wisata musim dingin terpopuler di China

 

Pewarta: Vonza Nabilla Suryawan

Editor : Anom Prihantoro


COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2025