Bengkulu, (Antaranews Bengkulu) - Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Musi di Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu, menggunakan infrastruktur kelistrikan yang dirancang dapat menahan guncangan gempa bumi berskala hingga 12 SR.

"PLTA Musi merupakan pembangkit listrik dengan tipe Run of River. Gedung pembangkit terletak 400 meter di bawah tanah, sehingga dapat menahan gempa berkuatan 12 skala richter," kata Manager PT PLN UPDK (Unit Pelayanan Pengendalian Pembangkitan) Bengkulu, Yuliandra S Nurdin di Bengkulu, Kamis.

Dijelaskannya, nilai koefisien seismik yang digunakan merupakan data hasil observasi selama hampir satu abad, yaitu sejak tahun 1900 hingga 1991.

Untuk intake dam dan intake struktur bangunan memiliki ketahanan beban mencapai 0,18 koefisien seismik horizontal (Kh), struktur terbuka seperti tailrace outlet mencapai 0,15 Kh, dan pembangkit listrik bawah tanah mencapai 0,08 Kh.

"Dengan infrastruktur tahan gempa, PLTA ini memang telah dirancang untuk bertahan lama mengingat Bengkulu merupakan zona merah bencana," ujarnya.

Sejarah proyek pembangunan PLTA Musi dimulai sejak tahun 1965 dengan menghabiskan biaya sebesar Rp1,5 triliun. Meski telah berusia lebih dari setengah abad, namun pembangkit listrik energi terbarukan ini masih beroperasi aktif.

PLTA Musi memiliki daya terpasang sebesar 3x70 MW (210 MW) yang bersumber dari pemanfaatan aliran Sungai Musi, serta mampu membangkitkan energi listrik sebesar 1.140 GWh/tahun.

"Daya listrik yang dibangkitkan memenuhi dan menyuplai kebutuhan listrik hampir seluruh wilayah sumatera, khususnya bagian utara dan selatan, melalui jaringan transmisi 150kv/275kv," tutup Yuliandra.

Pewarta: Nur Muhamad dan Sugiharto Purnama

Editor : Musriadi


COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2018