Musi Rawas (ANTARA Bengkulu) - Satelit Aqua atau Fire Information for Resource Management milik NASA, selama Agustus 2012 mengidentifikasi terdapat 247 titik api di wilayah Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan.

"Berdasarkan identifikasi satelit Aqua terhitung 1 sampai 27 Agustus 2012 terdapat 247 hotspot yang terjadi pada 15 dari 21 kecamatan di Musi Rawas," kata Kepala Bidang Pengamanan dan Perlindungan Hutan pada Dinas Kehutanan Musi Rawas (Mura), Tri Retiyanto, Rabu.

Banyaknya titik api yang terjadi di daerah tersebut kata dia, akibat banyaknya warga yang membuka lahan perkebunan baru dengan cara di bakar, sehingga merambat ke kawasan kebun atau hutan di sekitarnya.

Kendati cara pembukaan areal pertanian dan perkebunan baru saat musim kemarau dengan cara di bakar, sudah dilarang pemerintah dan pihak kepolisian dan melanggar UU No.41/1999 tentang Kehutanan dan UU No.23/1997, dengan ancaman 12 tahun penjara, namun aksi ini tetap saja terjadi setiap tahunnya, dimana cara ini dianggap warga paling efektif dan hemat biaya.

Dari 247 titik api di wilayah itu terjadi dalam 15 kecamatan antara lain Suku Tengah Lakitan Ulu Terawas sebanyak 11 titik api, Bulang Tengah Suku Ulu sebanyak 52 titik api, Jayaloka sebanyak tiga titik api. Kemudian Kecamatan Karang Dapo 15 titik api, Karang Jaya 13 titik api, Megang Sakti dua titik api. Muara Beliti enam titik api, Muara Kelingi 14 titik api.

Selanjutnya Kecamatan Muara Lakitan terdapat 69 titik api, Rupit sebanyak 11 titik api, Nibung empat titik api, Rawas Ilir 13 titik api, Rawas Ulu 11 titik api, Selangit satu titik api dan Kecamatan Ulu Rawas terdapat 22 titik api.

Intensitas kebakaran hutan dan lahan di daerah itu terjadi setiap hari dan terbanyak terjadi pada 10 Agustus yakni sebanyak 48 titik api.

Untuk itu dia mengimbau kalangan masyarakat setempat agar tidak melakukan pembakaran lahan untuk pembukaan perkebunan mereka karena dapat menimbulkan kebakaran hutan dan lahan, apalagi saat ini di daerah itu sedang dilanda musim kemarau panjang sehingga potensi kebakaran hutan dan lahan setiap saat dapat terjadi.(nmd)

Pewarta:

Editor : Rangga Pandu Asmara Jingga


COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2012